Ratipah Jangan Menangis……..

7 06 2012

Tidak selamanya cinta harus bersatu, ini sepenggal kisah yang pernah saya dapat dari pengalaman hidup Ratipah……

Ratipah termasuk cantik diantara teman-teman sekolahnya, bukan indo tapi kulitnya putih ……..

Ratipah termasuk aktif dikegiatan seni dan olahraga. Setiap Agustusan, dia selalu tampil di alun-alun menyanyikan lagu-lagu pop di eranya bersama teman2 band bentukan sekolahnya.  Suaranya merdu membuatnya dikenal guru-guru dan teman2nya.  Tidak sedikit teman laki-lakinya yang menaruh hati padanya.  Tapi Ratipah sudah menambat hatinya pada remaja cowok tampan, Adi namanya.  Usianya 3 tahun di atas Ratipah.  Adi murid SMA yang sekolahnya tepat diseberang SMP tempat Ratipah menimba ilmu.  Hampir tiap hari bisa bertemu ketika jam istirahat.  Kebetulan, banyak orang jualan di jalan yang membelah sekolah mereka.  Mereka paling senang jajan lecker…..

Pada eranya, pacaran di depan umum bukan hal biasa.  Setiap orang akan malu kalo ketahuan sedang berduaan.  Pacaran jaman Ratipah hanya jalan berdua, tanpa gandengan tangan dan jalannya pun tidak berdekatan ada sekitar 1 meter jarak mereka bersebelahan ketika jalan.  Kala itu, setiap mata orang akan terfokus jika ada pemuda dan pemudi sedang jalan berduaan.  meskipun begitu,  Ratipah sangat bahagia dan senang, dipikirannya hanya terbersit wajah tampan Adi.  Hari-harinya penuh dengan wajah Adi.  Rasanya setiap malam ingin segera berganti pagi supaya dia bisa segera bertemu kekasih hatinya……

Adi selalu membuatnya bahagia, dia tempat segala curhat Ratipah.  Semua cerita suka dan duka Ratipah sudah terekam dalam ingatan Adi.  Ratipah sudah sangat dekat dan tidak mau ada perpisahan dengan Adi, bahkan untuk membayangkannya saja Ratipah tidak berani.  Rasa cinta Ratipah sebesar apa yang Adi rasakan juga kepadanya.  Mereka sudah sangat merasa cocok.  Saat itu, keduanya sama-sama kelas tiga, Ratipah kelas 3 SMP dan Adi kelas 3 SMA.  Dua bulan lagi, mereka akan ikut ujian kelulusan.  Hari yang dinanti keduanya, karena mereka sudah sepakat akan meresmikan hubungannya dalam suatu ikatan perkawinan setelah lulus nanti.  Keduanya sudah mengikat janji untuk sehidup semati.   Pada masa itu, perempuan lulus SMP menikah sudah dianggap matang.  Adi akan bekerja setelah lulus nanti, lulusan SMA sudah dianggap berpendidikan tinggi dan jarang sekali orang pada jaman itu bisa tamat SMA.  Kebanyakan masih tamatan SD, jarang yang lulus SMP apalagi tamatan SMA.  Memang Adi berasal dari keluarga terpandang, bapaknya adalah pejabat di kantor kabupaten.

Hampir tiga tahun memadu kasih dengan Adi, telah membuat hari-hari Ratipah penuh dengan bunga-bunga bahagia tidak pernah ada satupun tetes air mata kesedihan selain keharuan atas ketulusan dan kesungguhan cinta Adi untuknya.  Genggaman mesra jemari Adi selalu merekat di jemari Ratipah sesaat setelah Ratipah manggung sebagai ucapan selamat dari Adi karena dia telah bernyanyi sangat bagus.  Ratipah tak pernah ingin sentuhan hangat  tangan Adi yang penuh rasa kasih di kedua pundaknya itu segera lepas setiap Adi bangga dengan apa yang telah Ratipah raih.  Tatapan mata Ratipah tak pernah beralih ketika melihat wajah putih dengan mata berbinar ditambah senyum menawan diantara gigi-gigi putih dan hembusan segar nafas Adi ke wajahnya.  Setiap pelukan hangat dada-dada bidang  Adi menyentuh tubuh Ratipah membuatnya menjadi nyaman berada dekat Adi.  Adilah sosok idaman yang Ratipah inginkan selalu berada disisinya hingga ajal memisahkan.  Yang membuat Ratipah senang, di setiap pertemua mereka tidak pernah sekalipun Adi lupa membisikan kata aku sangat mencintaimu Ra……

Ratipah tidak pernah meragukan kesungguhan cinta Adi, semakin hari rasa itu semakin ditunjukkan kepadanya.  Belakangan ini, Adi menambahkan kata-kata mesra di telinga Ratipah…..Aku ingin segera serumah denganmu Ra….Aku ingin menikahimu Ra…….Sudah tak sabar aku ingin selalu bersamamu Ra….MEnghabiskan detik-detik hariku……Aku sangat mencintaimu Ra……Ratipahpun hanya tersipu malu dengan pipi merahnya yang Adi pun juga tahu bahwa Ratipah juga merasakan hal yang sama……

Suatu hari, beberapa hari sebelum pengumuman Ratipah bermimpi aneh.  Dalam mimpinya Ratipah dibawa terbang burung besar.  Diceritakan mimpi itu kepada Adi.  Sambil dipegangnya pundak Ratipah dengan tatapan penuh perhatian, Adi bilang ke Ratipah….. Itu hanya mimpi saja Ra, tidak usah dipikirkan….OK.  Ratipah hanya mengangguk saja, meskipun hatinya merasa tidak enak, tapi tidak tau apa penyebabnya…….Siang itu sepulang melihat pengumuman,  Ratipah diantar pulang Adi.  Adi melihat rumah Ratipah seperti ada tamu, kok rame sekali.  Ratipah juga heran.  Mungkin teman-teman bapak lagi maen kerumah ya.  Akhirnya kebersamaan mereka terputus dulu.  Ratipah melangkah menuju rumah setelah mengucapkan kata: saya masuk rumah dulu ya dii…..OK Ra….sampe ketemu besok ya……Ya besok mereka akan bertemu untuk latihan persiapan hari Perpisahan Sekolah.  Sambil melangkah, ada perasaan aneh menyelimuti hatinya, tidak seperti biasanya hari itu sepertinya ada perasaan takut kehilangan Adi.  Setiap 2 langkah mengayunkan kakinya menuju halaman rumah Ratipah menengok kebelakang menatap kekasihnya yang masih setia berdiri dengan senyuman manis dan lambaian tanggan membentuk  lambang  hati sambil mulutnya komat-kamit bilang  ai lof yuu…ai lof yuu…..Hampir 5 kali Ratipah menoleh melihat Adi, padahal biasanya dia melangkah dan melihat Adi sesampainya dipintu rumah saja.  Sesampainya di muka pintu, Ratipah berhenti sejenak untuk menghantarkan kepergian Adi meninggalkan pelataran rumahnya.  Dilihatnya Adi mengayunkan sepedanya melaju pergi.  Berkali-kali Adi menoleh kebelakang melihat Ratipah disertai senyum indahnya….Ratipah membalas dengan senyum dan lambaian tangan……Belum sampai hilang pandangannya menuju Adi, tiba-tiba ada sentuhan dipundaknya dan terdengar suara lembut wanita yang tak lain adalah ibunya.  Memastikan kepulangan Ratipah dari sekolah dan menanyakan hasil pengumumannya.  Ratipah dengan senangnya menceritakan kelulusannya dengan predikat sangat baik.  Ibunya tampak tidak kaget, karena mereka yakin Ratipah pasti lulus dengan nilai terbaik.  Ratipah dirangkul untuk masuk dan segera berganti pakaian.

Ketika memasuki rumah, pandangan Ratipah tertuju pada beberapa tamu yang sedang duduk diruang tamu.  Ada sekitar 6 orang tamu, 2 perempuan paruh baya dan 3 laki-laki dewasa dan ada satu pemuda gagah dan tampan yang tak bergeming pandangannya selalu melihat Ratipah.  Sepertinya terpesona dengan kecantikan wajah Ratipah.  Diantara tamu itu juga duduk mbah putri dan bapak Ratipah.  Kemudian Ratipah menyapa dengan senyuman manisnya sambil pamit masuk kamar ingin berganti pakaian.  Dalam langkahnya menuju kamar didengarnya ibunya mengenalkan kepada  mereka inilah Ratipah anak pertama mereka.  Ratipah senang,  terdengar pujian tamu mengenai kecantikan  wajahnya.  Namun ada beberapa kata dari mereka yang membuatnya terkejut…..mereka bilang tidak salah memilih Ratipah jadi calon mantu.  Tidak salah memilih Ratipah dijadikan calon istri Arlan.  Bagai disambar petir dan tertimpa runtuhan batu-batu sebesar gunung Ratipah langsung terhenyak kaget.  Calon Mantu, calon istri, Arlan, semua berkecamuk dalam pikiran Ratipah.  Apa yang sesungguhnya akan berlaku.  Siapa Arlan? Apakah dia akan dinikahkan dengan seseorang? Ya Allah, apa arti semua ini? Penasaran dengan lakon yang berlaku hari ini, diam-diam Ratipah menguping pembicaraan orantuanya dan tamu-tamu tadi.  Jelas dalam pendengaran Ratipah kalo tamu-tamu sudah mantap sekali untuk meminta Ratipah untuk jadi istri Arlan, anak terakhir mereka.  Sudah waktunya bagi Arlan untuk menikah. Dan sepertinya Arlan suka dengan Ratipah karena ternyata Ratipah sangat cantik dan menawan sekali.  Terdengar juga ternyata mereka adalah teman baik mbah putri.  Mereka adalah teman mbah putri berjualan di pasar.  Mbah putri juga merasa cocok karena sudah tahu bibit, bebet, dan bobot Arlan.  Mereka bukan berasal dari keluarga biasa.  Arlan adalah seorang anggota TNI Angkatan Darat dan tugasnya di jakarta.

Hancur hati Ratipah.  Tanpa terasa air matanya menetes dipipinya.  Cuma satu yang ada dipikirannya yaitu Adii.  Pria tampan yang rencananya akan segera melamar dan menikahinya.  Yang akan menghabiskan hari-harinya.  Yang akan mengisi hidupnya dengan penuh kebahagiaan dan keceriaan.  Yang akan setia menemani hingga ajal memisahkan.  Yang sebentar lagi akan bersanding berdua dipelaminan.  Masih terngiang di telinganya bagaimana kemaren mereka sudah mengikat janji akan sehidup semati.  Masih terasa hangat pelukan dan genggaman jemari Adi di tangannya.    Semakin deras air mata mengalir dipipinya.  Ratipah tidak ingin berpisah dengan Adi.  Dia sangat mencintainya.  Hidupnya hanya untuk Adi seorang.  Sesekali Ratipah menghela nafas, tak kuasa membendung kesedihan hatinya.  Rasanya berat sekali dia merasakan ini semua.  Tangisnya semakin menjadi, apalagi setelah mendengar bahwa pernikahan dengan Arlan akan dilangsungkan 2 minggu lagi, karena ijin cuti Arlan cuma sebentar.  Padalah 2 minggu lagi adalah waktu dimana Adi berencana akan melamar Ratipah.  Ya Allah, kenapa harus seperti ini.  Rencana apa yang telah Engkau kehendaki untuk hamba, tanya Ratipah dalam hatinya.  Bayangan tentang keindahan hidup bersama Adi buyar dan berkeping-keping.  Ratipah tak mungkin bisa menolak ini semua.  Tak kuasa menahan berat kesedihannya, berlarilah Ratipah ketempat tidurnya.  Air mata sudah membasuhi pipi dan pakainnya.  Matanya mulai bengkak….terlalu berat Ratipah menghadapi ini.  Bagaimana perasaan Adii, padahal janji itu sudah disepakati.  Dari arah pintu kamarnya terdengar suara lengkah lembut yang Ratipah hafal itu langkah ibunya.  Dirasakan belaian lembut tangan ibunya di pundak Ratipah.  Ratipah tak ingin menunjukkan kesedihannya.

Ditahannya tangisnya dengan menundukkan kepalanya sedalam-dalamnya ke bantal sepertinya dia ingin sedalam-dalamnya mengingkari ini hanya mimpi bukan kenyataan.  Sambil membelai, ibunya  meminta maaf karena tidak memberitahukan pada Ratipah tentang ini semua.  Semua rencana mbah putri.  Arlan adalah anak teman baik mbah putri.  Banyak budi yang sudah diberikan keluarga Arlan pada keluarga mbah putri.  Tidak etis jika menolak lamaran mereka.  Lagi pula Arlan juga ganteng Ra.  Mereka keluarga baik-baik.  Ratipah semakin menjadi tangisnya, sudah yakin bahwa pernikahan ini tidak mungkin tidak terjadi.  Dua minggu lagi dia akan bersanding dengan Arlan bukan Adi pria idaman yang sangat dicintainya hidup dan mati.  Setampan apapun Arlan, Adi tetap lebih tampan di mata Ratipah.  Rasa cintanya sudah begitu dalam pada Adi.  Dalam tangisnya, ibunya bertanya pada Ratipah, apakah dia bersedia menerima Arlan? Semakin deras air matanya mengalir.  Ratipah tak mampu berkata-kata lagi, rasa sedihnya yang dalam telah mematikan urat bicaranya.  Dadanya bergemuruh, hatinya hancur dan sakit sekali. Diamnya Ratipah dianggap setuju oleh ibunya.  Kemudian ibunya bilang ke Ratipah jangan menangis, setiap wanita sebelum menikah pasti seperti ini.  Ibu juga dulu sama sepertimu, menangis karena takut berpisah dengan mbah.  Kamu tidak usah khawatir, nanti juga bisa sering ketemuan kok.  Jakarta dekat, ada kereta langsung. Mulai besok kamu dipingit nak, tidak boleh keluar dan pergi kemana-mana.  Dua minggu lagi pernikahanmu dilangsungkan.  Setelah itu ibunya pergi meninggalkan kamar dan sebelumnya mencium kepala Ratipah.  Ratipah tetap menangis, tangisnya bukan karena akan berpisah dengan kedua orangtuanya.  Dia akan berpisah dengan Adi selamanya.  Tak mungkin dia bisa melihat Adi lagi apalagi dia harus mengikuti Arlan ke Jakarta.  Ya Allah, berarti mimpiku adalah firasat bahwa aku akan di bawa pergi jauh dari Adi.  Berarti tadi adalah hari terakhirku bertemu Adi.  Ya Allah….beri kesempatan aku bertemu dia…..

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari…….Ratipah hanya dirumah saja.  padahal sudah banyak agenda latihan untuk acara perpisahan.  Tapi bukan itu yang dipermasalahkannya, yang memberatkannya adalah Adi.  Dia sudah janji akan bertemu Adi.  Ratipah yakin pasti Adi sedang mencari-carinya.  Dia yakin Adi pasti gelisah dan resah.  Dia yakin Adi pasti menderita kangen ingin berjumpa dengannya karena  Ratipahpun sangat rindu ingin berjumpa dengan Adi.  Seandainya dia bisa keluar rumah untuk menjelaskan semuanya ke Adi.  Ya Allah tunjukkan jalan agar bisa berjumpa dengan Adi.

3 hari telah berlalu, Ratipah belum sekalipun bertemu dengan Adi.  Tak ada kesempatan yang dimilikinya.  Wanita yang sudah dipingit, tak sedikitpun boleh beranjak dari rumah untuk keluar.  Adat jawa telah menghancurkan harapan Ratipah untuk bisa bertemu Adi.  Sementara itu berita pernikah Ratipah mulai tersebar ke seantero kampung dan sekitarnya.  Ratipah yakin pasti Adi lambat laun akan mengetahui ini.  Dia hanya bisa menguraikan air mata,  membayangkan betapa hancurnya hati Adi, apalagi tahu dia akan menikah dengan orang lain.  Ratipah semakin hampa hidupnya menjelang pesta pernikahannya dengan Arlan.  OOhhh….betapa berat hidupku……desah Ratipah disela tangisnya….

Seminggu berlalu, pernah Ratipah mencoba ijin keluar rumah untuk pergi ke sekolah.  Tapi orangtuanya melarang karena pingitan melarang calon mempelai perempuan keluar rumah, pamali katanya.  Urusan ijasah dan kelulusan sudah ditangani bapaknya.  Ratipah tidak bisa berbuat apa-apa, seperti perempuan jawa pada eranya.

Sembilan hari berlalu.  Teman Ratipah, Ina datang ke rumahnya.  Dia mengantarkan sebuah surat yang ternyata itu adalah surat dari Adi.  Ina bercerita kalo sekolah sudah tahu kenapa Ratipah tidak ikut acara perpisahan kelas.  Bapak sudah menjelaskan semua.  Jadi Ratipah sudah digantikan Ina untuk mengisi acar perpisahan.  Sekolah sedih karena Ratipah tidak bisa ikut bergabung di acara itu.  Ina bercerita bahwa Adi telihat hancur sekali hidupnya.  Adi tidak rapi seperti biasanya.  Wajahnya kusut dan seperti orang stress.  Ina kasihan melihat Adi.  Adi menitipkan surat untuk Ratipah.  Ratipah langsung mengambil surat itu, langsung dibacanya surat itu.  Saat membuka lipatan surat itu, tak kuasa Ratipah meneteskan air mata.  Tetesan airmatanya jatuh tepat dibekas tetesan airmata Adi saat menulis surat ini semalam…..

9 – 5 – 1969

dear mylove….

Ra, sekarang tanggal 9 Mei, 9 Mei tahun ini tepat 3 tahun kita jadian.  Kamu pasti  ingat itu tanggal lahir ku dan pasti kamu ingat kita berdua paling suka dengan angka sembilan.  Kita lebih suka nilai 95 dibandingkan 100 khan? Aku tidak tahu bagaimana mulainya, ini mungkin sudah 95 lembar kertas yang aku tulis, karena semuanya salah, aku kacau Ra….

Ra, banyak kesamaan pada diri kita tapi itu tidak jaminan kalo kita berjodoh ya?

Ra, aku sangat mencintaimu melebihi aku mencintaiku diriku sendiri.  Hidupku bahagia selama aku menjalaninya bersama kamu.  Terakhir aku bersamamu waktu kemaren mengantar kamu melihat pengumuman.  Seandainya aku tahu itu kali terakhir melihat wajah cantikmu dan kali terakhir bisa bersama kamu, aku tak akan mengantarmu pulang.  Aku akan bawa kamu ketempat dimana kita tak bisa dipisahkan kecuali ajal menjemput.  Seminggu aku mencarimu, karena rinduku tak tertahan sejak terakhir kita bersama.  Hidupku menjadi kacau, aku menyadari aku tak bisa hidup tanpamu.  Ra,  ini kali pertama aku menangis seberat-beratnya.  Aku menangis karena aku tahu aku akan kehilanganmu.  Aku dapat kabar tentang pernikahanmu. Aku tidak tahu alasan apa hingga kamu tega mengakhirinya cinta kita.  Aku mau tahu kenapa Ra? Aku yakin ini bukan karena kamu tidak cinta lagi denganku.  Aku tahu bagaimana cintamu padaku.

Ra, aku masih menangis….menangisi gagalnya rencana bahagia kita.  Padahal 2 minggu lagi aku akan melamarmu untuk jadi pendamping hidupku selama-lamanya.  Aku sedih ternyata yang kita rencanakan semuanya hanyalah mimpi.  Dan ternyata ini mimpi yang terberat yang tak pernah bisa hilang dari sadarku.

Ra, airmataku sudah habis tapi rasa cintaku padamu  takkan pernah habis.  Rasa cintaku dari dulu sampai ajal menjemputku akan selalu sama nilainya untukmu.

Ra, aku ingin pergi tapi tidak tahu kemana harus melangkah.  Percuma aku pergi kalo ingin menghindar darimu, karena bayangan wajahmu selalu melekat dihati dan pikiranku, takkan pernah bisa hilang Ra…..Aku bisa gila atas semua ini…..

Ra, kita sudah terhalang batas yang jelas…..5 hari lagi kamu sudah menjadi milik orang lain….ijinkan aku tetap mencintaimu, ijinkan aku tetap mengingat wajah cantikmu, meskipun aku tidak bisa memilikimu cintaku takkan pernah surut…..

Selamat ya ra, mudah2an kamu bahagia bersamanya.  Aku tak melarangmu mengingatku karena aku tahu cintamu padaku sama seperti cintaku padamu……Aku besok pergi ke Turki untuk melanjutkan kuliahku, aku ingin mendekatkan diri pada Allah, meskipun aku sempat marah padaNya tapi aku yakin ini mungkin jalan terbaik yang harus kita jalani…..

Ra, aku masih menangis neh……

yang sangat MENCINTAIMU,

Adi

Derai airmata mengalir deras diwajah Ratipah.  Impian bahagia bersama Adi sudah berakhir.  Dia sudah tidak bisa bersamanya lagi karena 5 hari lagi dia sudah jadi milik orang lain.  Air mata itu tidak bisa berhenti mengalir.  Mungkin ini ijab kabul yang paling penuh air mata, karena sepanjang ijab, Ratipah menangis tak henti-hentinya.  Orang tahunya tangisan itu adalah tangisan haru,  padahal itu tangisan kesedihan mendalam kehilangan cintanya sejatinya.   Sampai saat ini, jika mengenang Adi Ratipah hanya bisa bersedih.  Beruntungnya dia punya anak laki-laki yang tampan yang wajah dan perawakannya mirip dengan Adi.  Ratipahpun memberinya nama Asmaradi…..hanya dia pengobat rindunya…..Cinta tak selamanya bisa memiliki…….


Actions

Information

3 responses

8 06 2012
c4m0x5

Kisah nyata yang membuktikan bahwa tak selamanya cinta harus memiliki….semoga bisa ihlas.

8 06 2012
annaellenora

hehe…
trus kisah si adi sendiri pie?

9 06 2012
c4m0x5

Kisah adi masih misteri len….ini true story….yg adi musti dlacak dulu. Tunggu kelanjutannya ya….hehehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: