MAAFKAN AKU SAYANG………………..

13 06 2012

Kisah ini terinpirasi dari kisah nyata teman yang harus kehilangan istri tersayangnya…….

Sebut saja Rino. Dia bekerja di salah satu perusahaan komunikasi.  Diperusahaan itu Rino dipercaya sebagai teknisi ahli yang mengurus BTS yang biasa dikenal pemancar sinyal HP.  Pekerjaan Rino tidak enteng dan butuh tenaga super kuat untuk melakukan setiap pekerjaannya.   Era tahun 2000an, provider-provider telekomunikasi giat mengembangkan jaringannya ke pelosok-pelosok nusantara.  Tidak sedikit BTS yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi mayarakat Indonesia.  Dampak positifnya langsung dirasakan Rino karena banyak job dan pekerjaan yang dia terima saat itu.

Rino memang pekerja lapangan dan waktunya banyak tersita disitu.  Tidak mengenal siang, kadang dia bekerja hingga larut malam.  Ria, sangat memahami pekerjaan suaminya.  Sudah 3 tahun lebih dia mendampingi Rino.  Ria adalah tipe perempuan yang tidak suka mengeluh dan dia sangat menerima Rino apa adanya.  Kekurangan diri Rino menjadi sesuatu yang tidak pernah dipermasalahkan oleh Ria. Sebelum menikah, mereka sering putus nyambung dari cinta monyet sampai cinta beneran.  Meskipun Rino tidak romantis seperti mantan-mantan Ria sebelumnya, tapi Rino tipe yang setia dan dia sangat sayang dan mencintai Ria sepenuh hati.

Suatu sore, Rino sedang termenung menyesali sikapnya selama ini.  Guratan wajahnya sangat jelas menorehkan harapan untuk bisa membahagiakan Ria.  Rino duduk diatas kursi tepat disamping tempat tidur beralas seprei berwarna putih.  Disitu tergolek Ria dengan berbagai perlengkapan penopang pasien yang kondisinya sedang kritis.  Infus menempeli tangan kurusnya.  Mulutnya menganga karena pipa oksigen yang membantunya bernafas tertanam kedalam rongga lehernya.  Balutan kain kasa putih melingkari seluruh kepala Ria bagian atas.  Rino yakin istrinya tidak tidur dalam kondisi nyaman.  Penyangga leher tampak menahan kepala Ria agar tidak turun ke bawah membuat wajah Ria menengadah ke atas seperti orang yang berdoa meminta Tuhan agar suaminya segera sadar dan berubah sikapnya.  Ria sedang terbaring koma.  Denyut jantungnya masih berdetak di alat monitor denyut jantung yang sesekali mengeluarkan bunyi nit….nit, menandakan raga Ria masih bersatu dengan nyawanya.

   Sesekali Rino membelai tangan kurus istrinya.  Diamatinya tubuh istrinya itu.  Betapa kurusnya Ria, seperti tulang yang hanya dibalut kulit.  Ingatannya kembali kebelakang.  Beberapa tahun setelah pernikahannya, mereka belum juga diberi momongan.  Waktu itu pekerjaan Rino memaksanya menghabiskan waktunya lebih banyak diluar.  Sepulang kerja lebih banyak waktunya untuk istirahat.  Habis tenaganya terkuras, sampai-sampai setiap liburan lebih banyak dipakainya untuk tidur.  Lebih sering Rino bangun siang.  Ria sangat paham itu dan di setiap bangun paginya tak pernah tega dia membangunkan Rino yang tampak lelap tidurnya.  Ria dari kecil terbiasa bangun pagi dan melakukan aktifitas pekerjaan rumah secepatnya dia bangun.  Ria tidak suka rumahnya berantakan, makanya setiap teman-temannya merasa nyaman ketika maen disitu.  Perabotan rumah tertata rapih diatas lantai keramik yang mengkilat setiap terkena pancaran sinar matahari.  Tidak ada sedikitpun debu menempel karena Ria rajin membersihkannya dengan kemoceng.  Tak ada satupun teman yang  tidak memuji kebersihan dan kerapihan rumah yang ditempati Ria dan Rino.  Biasanya, sambil menyapu dan mengepel lantai rumah, Ria mencuci baju-baju kotor.  Kebetulan Rino membelikan mesin cuci otomatis satu tabung sehingga pekerjaan Ria menjadi lebih ringan.  Ria juga tak pernah lupa menyiapkan roti bakar meses kesukaan Rino.  Sekitar jam 9 pagi, Rino bangun dari tidurnya dan seperti biasanya dia langsung meluncur ke ruang TV.  Aroma roti bakar meses yang masih hangat yang baru saja dibuat Ria menggiring kakinya melangkah kemeja di mana Ria sudah letakkan itu disamping secangkir kopi susu kreamer dan koran Kompas.  Ketika menuju ke ruang TV, dilihatnya Ria sedang menjemur cuciannya.  Peluh membasahi wajah cantiknya yang bersinar terkena pancaran matahari pagi.  Sesekali Ria menyeka keringat yang mengalir diwajahnya.  Ria tahu suaminya itu sudah bangun, dan dia sudah hafal pasti yang ditujunya pertama kali pasti roti bakar sarapannya.  Kenapa roti bakar ya, padahal Ria berharap Rino menghampirinya dengan pelukan pagi yang mesra disertai salam pagi sayang berupa kecupan manis dipipinya.  Rino tidak pernah melakukan itu.  Apakah dia memperhatikan itu, Ria sudah melakukan banyak hal seperti menyapu, ngepel,  mencuci baju, bikin sarapan, jemur cucian dan setrika baju yang sebenarnya itu juga menguras habis tenaga dan melelahkan.  Rino tidak pernah berpikir itu, menurut pikiran Rino itu sudah menjadi tanggungjawab seorang istri.  Ibu, tante, neneknya melakukan itu semua dan tak pernah dia melihat sekalipun bapak, om, dan kakeknya melakukan pekerjaan rumah seperti itu.  Lagi pula Rino sudah capek bekerja setiap harinya untuk mendapatkan uang untuk digunakan mereka memenuhi kebutuhan hidup.  Akhirnya Ria hanya bisa membatin saja tanpa bisa mengeluhkan betapa kurangnya perhatian dan pengertian Rino padanya.  Semua pekerjaan rumah Ria lakukan sendiri.  Guratan lelah sebenarnya tampak di wajah Ria, tapi dia tidak pernah mengeluhkan itu dan Rino pun tidak pernah memperhatikan kelelahan yang dirasakannya.

Belum diberi momongan hampir 2 tahun  ternyata membuat mereka cukup khawatir.  Mereka rajin memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan.  Setiap hasil pemeriksaan menyatakan tak ada satupun masalah terkait dengan organ reproduksi mereka.  Keduanya subur dan dokter menyarankan agar Ria jangan terlalu capek.  Efeknya bisa mempengaruhi kekuatan rahim mencengkeram calon janin agar tetap menempel didindingnya.  Dokter pernah menerangkan pembuahan yang telah terjadi dapat saja runtuh karena perempuan kecapekan.  Dari situ Ria menjadi berpikir penyebab dia belum hamil-hamil juga kemungkinan karena hari-harinya selalu lelah dan capek melakukan aktifitas pekerjaan rumah yang tidak pernah ada habisnya.  Dia ungkapkan dugaannya ini  kepada Rino.  Dan Rino mengiyakan kelelahan Ria sebagai penyebab mereka belum juga diberi keturunan.  Akhirnya mereka sepakat sementara waktu Ria tidak boleh melakukan pekerjaan rumah yang melelahkan, dan mereka akan mencari pembantu untuk membantu Ria.  Ria sangat berharap segera hamil. Sejak itu, setelah ada pembantu di rumahnya pekerjaan Ria menjadi jauh lebih ringan.  Tapi Ria tetap masih melakukan pekerjaannya sebagai istri.  Ria masih tetap memasak dan membuat sarapan kesukaan suaminya dan kadang masih mau mencuci piring.  Dia sementara sudah tidak lagi menyapu lantai, ngepel, mencuci baju dan setrika baju.

Suatu hari Ria merasakan tubuhnya drop.  Badannya terasa remuk dan tidak nyaman tidurnya.  Mulutnya pahit dan tak satupun makanan yang bisa masuk kemulutnya.  Badannya panas dan pandangannya berkunang-kunang setiap dia berdiri.  Tiba-tiba Ria terduduk dipinggiran tembok dekat WC, Ria tidak sanggup lagi berdiri.  Keringat dingin mengucur diseluruh tubuhnya.  Pandangannya semakin gelap.  Sementara itu Rino baru saja mandi, dia terkejut ketika dilihatnya Ria bersimpuh didekat pintu keluar kamar mandi.  Segera dihampirinya Ria.  Dirasakannya betapa panasnya tubuh istrinya itu.  Rino yakin istrinya sedang sakit.  Diangkatlah Ria ke dalam kamar.  Ria sudah tidak sanggup bicara, tapi dia tahu Rino sedang memeriksa panasnya dengan termometer.  Ria melihat dengan samar bagaimana ekspresi Rino yang sangat khawatir setelah melihat angka di termometer itu.  Rino bilang, kenapa bisa sampe panas begini sayang, 40 derajat. Kita kerumahsakit aja sekarang.  Segera Rino berpakaian dan membopong Ria ke dalam mobil dan meluncur ke Rumah Sakit.  Ria dimasukkan ke dalam unit gawat darurat.  Infus segera dipasang di tangan kanannya.  Ria kekurangan energi karena dia berpuasa beberapa hari sebelumnya dan waktu buka hanya makan sedikit saja.  Ria puasa karena ingin punya anak.  Diruangan itu, Ria segera ditangani paramedis.  Seorang dokter ditemani 2 perawat memeriksa tubuh Ria.  Sebelumnya Rino sudah menerangkan ke petugas kesehatan apa yang dialami Ria.  Tenaga Ria berangsur pulih segera setelah cairan infus mengalir masuk kedalam nadinya.  Ria merasa mulai enakan.  Teringat tulisan di artikel majalah ayah bunda bahwa seorang wanita hamil tidak boleh sembarangan konsumsi obat-obatan membuat Ria mengkhawatirkan dirinya.  Sudah seminggu dia telat.  Kalo benar dia sedang hamil maka bahaya bagi kehamilannya jika dia mendapat suntikan obat-obatan.  Diungkapkanlah pada dokter yang sedang memeriksanya bahwa dia sudah telat seminggu.  Dokter meminta perawat mengambil air seni Ria untuk diperiksa kehamilannya.  Ini terkait dengan obat-obatan yang harus diberikan.  Keesokan harinya, pada saat pemeriksaan pagi hari, Ria dan Rino mendapat kabar bahagia bahwa Ria postif hamil.  Rino sontak langsung berteriak girang.  Akhirnya dia akan jadi seorang bapak. Saking girangnya dipeluklah dokter yang memberikan kabar gembira itu.  Semua yang diruangan itu tertawa melihat ekspresi Rino.  Sadar akan kelucuan itu Rino langsung lari mendekati Ria, dipeluknya Ria penuh kasih sayang.  Keduanya tampak bahagia sekali.  Sakitnya Ria ternyata sakit enak. Sakit oleh akibat keenakan yang dibuat mereka malam itu……..

Waktu terus berlalu, tak terasa sebentar lagi Ria akan melahirkan.  Ditemani mertua dan iparnya Ria sudah berada di rumah sakit bersalin.  Dokter bilang Ria sudah pecah ketuban tapi belum ada rasa sakit yang dirasakanya.  Untuk mempercepat kontraksi, Ria dirangsang dengan obat.  Rasa sakit segera mendera Ria, ini kali pertama Ria merasakan sakit yang tidak kepalang rasanya.  Di atas tempat tidur Ria guling kiri guling kanan untuk mereda rasa itu.  Dia selalu memanggil nama Rino, tapi sayang suaminya tidak ada di sebelahnya.  Rino sedang di luar pulau.  Dimintanya kakak ipar menelpon Rino.  HP Rino tidak aktif dan di luar jangkauan.  Mungkin Rino dalam perjalanan pulang ya, pikir Ria.  Rino pasti sedang di pesawat neh, bayangan Ria menenangkan hatinya. Lima jam setelah itu lahirlah bayi laki-laki yang sehat.  Dokter bilang bayinya akan tinggi besar nantinya.  Banyak lipatan-lipatan dipaha dan kakinya.  Kebetulan sekali, setelah bayinya dibersihkan dan diberi asi oleh Ria, terdengar panggilan di HP Ria.  Tertera tulisan Cinta di layar HP itu.  Ria langsung angkat panggilan itu, karena Rino sedang menunggu panggilannya diangkat.  Dikabarkanya berita kelahiran anak mereka.  Rino sangat bahagia dan sebelumnya minta maaf karena tidak bisa menemani Ria di saat-saat penting seperti ini.  Rino melantunkan azan ditelinga anak mereka melalui HP.  Jarak bukan masalah, yang penting azan pertama kali didengar anaknya langsung dari mulut bapaknya.

Rino terbangun dari lamunannya ketika dokter dan beberapa perawat meminta permisi untuk memeriksa Ria.  Rino bergegas menyingkir keluar.  Dilihatnya, Ria belum memberikan tanda-tanda perkembangan membaik.  Tubuhnya masih terbujur diam seperti kemarin.  Hanya denyut jantungnya yang berkedip-kedip di layar monitor jantung.  Rino ingin Ria segera pulih.  Rino mulai merasa kehilangan.  Dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Ria. Tidak berani dia membayangkan ditinggal Ria. Tidak, Rino mengatakan tidak akan terjadi.  Ria pasti sembuh dan dia pasti akan segera membaik.  Dia akan segera berkumpul kembali bersama anak satu-satunya. Pikirannya langsung teringat sama Divo.  Divo sekarang masih berumur setahun.  Baru mulai senang berjalan. Dia masih meminum ASI.  Tiba-tiba hatinya menjadi sedih. Dalam hati dia berdoa meminta kesembuhan Ria.  Kasihan Divo, dia butuh bundanya.  Sejak Ria masuk ICU, Divo sudah tidak minum ASI lagi.  Terpaksa tidak bisa menikmati hingga 2 tahun usianya.  Divo minum susu formula pengganti ASI.  Dia tidak tahu bundanya sedang koma.  Sampai saat ini Divo masih terus menangis mencari bundanya setiap haus dan mau tidur.  Sejak Divo lahir, Ria merawat Divo dengan sangat tulusnya.  Tidak pernah Divo menangis karena haus.  Di malam hari, Ria selalu bangun dan selalu memberikan ASI pada Divo.  Mata Ria sampai hitam karena dia kurang tidur.  Bisa 4 kali bangun setiap malam demi Divo.  Sampai Divo bisa makanpun, Ria selalu membuatkan sendiri nasi tim.  Dengan telaten dia memberi makan Divo pada pagi, siang dan sore hari.  Semua Ria lakukan sendiri tanpa dibantu siapapun.  Untuk Divo, Ria ingin melakukan semuanya sendiri.  Ria paling mengkhawatirkan kesehatan Divo, dia tidak ingin anaknya sampai kelaparan dan kehausan.

Setelah Ria selesai diperiksa, segera Rino mendekati tubuh istrinya.  Rino tahu Ria pasti sekarang memikirkan dan mengkhawatirkan Divo.  Sambil membelai Ria, Rino berkata…..

Sayang…. Gak usah khawatir ya, Divo sekarang sama mami.  Divo pinter kok.  Dia mau minum susu.  Dia mau tidur sama mbah utinya.  Dia memang sering cari bunda…..bunda….Divo aman jadi tenang saja ya.  Yang penting bunda kuat, pasti segera sembuh.  Kita selalu berdoa supaya bunda lekas sembuh.   Panda tahu, bunda pasti kangen sama Divo khan? Rencana besok Divo mo di bawa kesini.  Yang kuat ya bun….panda pengen bunda segera pulang……

Rino tak kuasa menahan air matanya, dia tidak pernah membayangkan akan terjadi seperti ini.  Sementara itu, mendengar ucapan Rino, dari sela-sela mata Ria mengalir airmatanya.  Ria sepertinya kangen sama Rino dan Divo.  Tapi tubuhnya tidak bisa berbuat apa-apa.  Tubuhnya tak bisa digerakkan, tak ada stau syarafpun mampu memberikan komando kepada tangan, tubuh, kaki dan kepalanya untuk bergerak.

Dalam tangisnya Rino menyesali sikapnya selama ini.  Dia baru tahu apa yang selama ini dirasakan Ria selama hidupnya bersama Rino.  Semua terungkap beberapa saat sebelum kejadian itu menimpa Ria.  Kejadian ini menyebabkan Ria terbujur disini.

Seminggu yang lalu merupakan puncak kesabaran Ria menghadapi sikap Rino.  Waktu itu terjadi keributan dahsyat antara Ria dan Rino.  Seperti biasanya, hari minggu Rino bangunnya siang.  Tidurnya puas sekali.  Padahal dia tahu, divo sedang demam tinggi.  Ini pertama kali divo demam setinggi ini.  Ria sangat panik.  Dia nyaris tidak tidur malam tadi.  Setiap jam, divo menginggau sambil berteriak-teriak ketakutan seperti melihat monster mengerikan.  Dalam katanya yang belum jelas betul setiap nginggau Divo teriak bun…bun…atut..atut….kemudian dia menangis ketakutan.  Dengan sabarnya Ria menenangkan Divo.  Dipeluknya tubuh anaknya itu sambil kemudian digendong supaya Divo bisa lelap lagi. Tubuh Ria sangat lelah menggendong Divo yang beratnya waktu itu 12 kilo.  Rasanya Ria sudah tak mampu, karena siang harinya tadi dia habis mencuci dan setrika pakaian yang sudah lima hari menumpuk.  Kebetulan sekali, mbok tun yang biasa membantu lagi pulang kampung karena anaknya sakit.  Lima hari kebelakang Ria melakukan kembali pekerjaan rumah yang dulunya biasa rutin dia lakukan sebelum mbok tun ada.   Ria sudah seharian bekerja capek sekali.  Tiba-tiba rasa kesalnya datang melihat Rino sedang tidur dengan enaknya.  Ria paham Rino tadi juga seharian sudah bekerja sangat keras sekali dan pasti capek.  Karena sudah tak kuat menggendong Divo, padahal Divo belum lelap tidurnya, dipanggillah Rino dengan Kerasnya…..Sayang….bangun dong….

Rino bangun dengan kagetnya….dia paling tidak suka lagi tidur enak tiba-tiba dibangunkan….Monyeeettt……teriak Rino tiba-tiba…..

Mendengar umpatan itu, kagetlah Ria…..orang yang paling dicintai dan disayangi memarahinya dengan umpatan yang tidak seharusnya keluar.  Tega sekali Rino berkata seperti itu pada Ria.  Sakitlah hatinya, dan mulailah keluar semua uneg-uneg dihatinya…

Kamu keterlaluan sekali seh, kenapa kamu bilang aku monyet.  Lihat dong, aku sedang apa. Sakit hatiku…….Kamu enak bener tidur, aku tidur aja belum.  Tadinya aku gak tega bangunin kamu karena kamu capek kerja.  Aku dah gak kuat gendong Divo.  Seharian tadi aku nyuci n setrika.  Apa kamu pernah tahu, kerja beresin rumah dan ngurus anak juga capek.  Ditambah kamu gak pernah perhatiian aku jadi tambah capek rasanya..  Coba ingat, sebelum mbok atun ada, semua aku yang kerjain, aku capek aku lelah tapi gak ada perhatiannya dari kamu.  Aku jadi kaya pembantu aja.  Emang betul tugas istri mengerjakan pekerjaan itu semua, tapi khan gak ada salahnya kamu bantu waktu kamu ada dirumah.  Aku capek kerja dirumah, kamu enak-enakan baca koran, nonton tv.  Orang kalo cinta sama istrinya gak akan tega ngelihat istrinya sendirian kerja sampe capek. Kamu tuh bener-bener gak kerja apa-apa dirumah.  Enak banget deh…..kamu belum tahu rasanya kerja pekerjaan rumah khan?  Kita berumahtangga, jadi sharing lah…kamu bukan bujang lagi, kamu dah punya istri, dah punya anak, jadi pikirin anak istrinya juga dong, jangan  cuma mikirin diri sendiri…..

Kenapa kamu marah-marah gitu.  Aku diluar capek.  Kerjaanku berat banget aku mau istirahat kalo libur.

Libur?  Hoohhh…enak banget yah? Coba kamu pikir, aku kapan liburnya?  Gak adaaaa…..seminggu selama 7 hari aku tetep kerjain urusan rumahtangga.  Ngurus anak gak kenal waktu, pagi, siang, malam aku terbangun untuk divo. Tapi kamu mana? Enak tidur khan? Tapi aku gak pernah ganggu tidur kamu khan?  Aku gak pernah bangunin kamu khan? Aku biarin kamu tetep tidur, aku kasihan karena kamu harus kerja diluar.  Tapi apa pernah kamu kasihan ngeliat aku kerja capek seharian? Enggak khan?   Tega bener seh kamu? Aku gak minta kamu kerjain semua, tapi pengertianmu aja….berbagi pekerjaan diwaktu kamu dirumah supaya kerjaku lebih ringan. Yang ada aku pengen kerjain semua, aku gak mau kamu capek lagi. Kamu mikirin gitu juga gak?

Kamu tahu gak? Tubuhku kurus begini mikirin kamu. Kamu kok gak ada perhatiannya? Kamu kok gak pernah mikirin aku? Tapi kamu khan gak tahu…..Setiap orang tanya kenapa aku masih kurus, aku bilang aja capek ngurus rumah n anak. Padahal aku capek mikirin kamu yang gak ada pengertiannyaa…..

Rino masih tetap membela diri mencari kebenaran dirinya tanpa mau menerima dan mengakui kekurangannya selama ini.   Ini membuat Ria semakin kesal.  Kepikiran Divo demamnya semakin tinggi dan tak ingin terlambat membawa Divo berobat, Ria bersiap-siap berangkat ke rumahsakit membawa Divo.  Malam sudah menunjukkan jam 12.00.  Daripada tambah kesal, ditinggalkannya Rino di rumah.  Tidak perduli dengan hujan deras yang kebetulan turun malam itu tak menghalangi langkah Ria.  Tadinya dia mau naik mobil, tapi sayang tadi Rino pulang pake motor temannya karena mobil mereka lagi dibengkel.  Dengan menggunakan payung, Ria menutupi Divo dari guyuran air hujan.  Dia melangkah pergi meninggalkan rumahnya membawa sejuta kekesalan dan kekecewaan terhadap Rino.  Derai airmatanya sederas hujan yang mengguyur malam ini.  Lama berdiri dipinggir jalan, tak ditemui satupun taksi atau ojek melintasi jalan.  Kesepian itu menambah perih luka dihatinya.  Sementara itu, Divo  dalam gendongan Ria masih menggigil menahan demam yang sangat panas itu.

Rino akhirnya mengakui kesalahanya pada Ria.  Dia sangat menyesali sikapnya tadi. Hilang sudah egonya, Rino akhirnya kembali menemui Ria yang tadi sudah tidak dihiraukannya.  Kembali kekamar tidurnya, tempat tadi dia dan Ria bertengkar tak ditemui istri dan anaknya yang tercinta. Rino berteriak memanggil-manggil Ria.  Dia berlari-lari mencari Ria ke semua ruang yang ada di rumahnya.  Namun tak berhasil juga dia menemuinya.  Ketika melintasi ruang tamu, ditemuinya pintu rumah terbuka dan pikirannya langsung mengarahkan kakinya untuk mencari Ria keluar rumah.  Dan betul saja, ketika dia sampai diberanda rumah, matanya langsung terpancang pada bayangan hitam dengan payung sedang berdiri dipinggir jalan.  Hujan yang deras tak membuat samar pandangan Rino yang sangat paham betul bahwa sosok yang berdiri itu adalah Ria.  Dalam basah hujan, dilihatnya Ria kemudian berjalan kaki sambil terus mencari-cari berharap ada taksi yang lewat.  Melihat itu, kontan Rino segera menuju ke dalam rumah, mencari kunci motor.  Dalam penyesalan membiarkan istri dan anaknya di luar terguyur hujan.  Segera ditancap gas motor dan melaju  keluar menyusul Ria yang sudah 200an meter melangkah di depan sana.  Dalam hitungan detik, sampailah Rino ditempat Ria.  Rino kemudian turun dan berusaha menghentikan langkah Ria.  Terlihat Rino meminta maaf dengan penuh penyesalan.  Ria tak bergeming, kekecewaan yang dalam tidak mudah diluluhkan oleh permintaan maaf Rino.  Ria masih terus memaksa melangkah meskipun Rino telah memegang erat lengannya dengan penuh harapan Ria mau ikut naik motor.  Ria masih menangis dan terlihat pundaknya naik turun menggambarkan betapa kesedihannya sangat mendalam. Sementara kedua orangtuanya masih bersitegang, Divo semakin panas demamnya.  Tiba-tiba dia kejang dengan kerasnya.  Ini menganggetkan Rino dan Ria. Keduanya langsung panik. Tanpa memperdulikan pertengkarannya tadi, keduanya secara bersamaan segera membawa Divo menggunakan motor yang Rino bawa.  Tujuannya sama yaitu segera menyelamatkan Divo dari panasnya.  Tanpa peduli dengan guyuran deras hujan mereka segera naik motor.  Mereka sudah tidak menggunakan logikanya dengan baik.  Memakai payung sambil naik motor sangat berbahaya sekali.  Demi mencegah Divo kehujanan, saat itu payung menjadi satu-satunya yang bisa dipakai.  Rino sendiri tak memakai jas hujan.  Sedangkan Ria sudah kuyub terkena hujan dari tadi.  Tanpa pikir panjang, mereka melaju secepatnya agar bisa sampai ke rumah sakit yang letaknya sekitar 1 km lagi. Dalam laju motor itu, sesekali Ria masih bisa menahan payung yang didera angin dan hujan di atas motor yang ditumpanginya dengan kecepatan cukup tinggi.  Tidak ada yang menjadi pegangan buat Ria. Tangan kirinya digunakan untuk menahan gendongan Divo dan tangan kanannya memegang payung.  Ria hanya mengandalkan keseimbangan tubuh yang bisa menahannya.  Beberapa detik sebelum tiba di rumah sakit, angin yang datang dengan kuat menghunjam dari arah yang berlawanan, membuat Ria tak mampu lagi menahan payung yang terdorong ke arah belakang.  Ria terayun mengikuti arah payung itu terbang.  Keseimbangannya hilang, dia sudah tak bisa lagi bertahan di jok motor itu dan akhirnya terpelanting jatuh.  Pikiran Ria saat itu tidak ingin Divo jatuh duluan.  Dipeluknya Divo dan diputar tubuhnya agar Divo tidak tertindih oleh badannya.  Ria jatuh duluan menghantam aspal yang keras. Kepalanya menghunjam dengan kuat mengenai jalan itu. Sakit langsung merangsuk dalam tubuhnya.  Kepalanya sangat pusing, dan pandangan Ria makin lama makin buram, tapi dia menjadi  tenang karena merasakan Divo masih dalam pelukannya dan Divo tidak jatuh menghantam aspal, Alhamdulillah….terimakasih ya Allah.  Setelah itu, pandangannya menjadi hitam dan Ria tak sadarkan diri.

Sementara itu, menyadari bahwa istri dan anaknya jatuh terpelanting dari motor, Rino langsung mengerem laju motornya.  Ditinggalkannya motor itu dan langsung berlari menghampiri Ria.  Sementara itu orang-orang di sekitar yang melihat kecelakaan itu segera berhambur menghampiri Ria dan Divo.  Kebetulan sekali, lokasi jatuh terletak beberapa meter dari instalasi gawat darurat rumah sakit.  Tandu berjalan sudah meluncur bersama beberapa orang berpakaian putih menuju kerumunan orang.  Rino masih berlari, dan dia menyaksikan bagaimana tubuh Ria dan Divo di bawa dengan tandu itu menuju IGD.  Rino berteriak, minta mereka segera membawa istri dan anaknya ke dalam.  Dia masih berteriak minta tolong paramedis segera melakukan tindakan terbaik.  Belum sempet dia menyentuh tubuh anak dan istrinya. Tapi dia sempat melihat Ria terpejam dengan lumuran darah disekujur tubuhnya.  Beberapa perawat menahan tubuhnya untuk tidak masuk ke dalam ruang penanganan, padahal dia ingin menyaksikan langsung perkembangan penanganan Ria.  Mereka menyuruhnya tenang dan berdoa dan sabar menunggu di ruang tunggu…….Rino masih memberontak masuk, tapi tubuhnya lemah shock menerima kejadian yang berlangsung secara sekejab di luar dugaanya….Ya Alllahh….berikanlah kekuatan pada Istri dan Anak Hamba….Hamba sangat mencintai mereka, kenapa harus mereka? Biar hamba saja yang di situ….selamatkanlah mereka ya Allah….Rino masih sesenggukan……suaranya berat seberat hatinya menerima kenyataan ini.

Mengingat itu, membuat Rino menyesali sekali sikapnya.  Langsung dipandangi sekujur tubuh Ria yang masih terbaring itu.  Tiba-tiba Rino menangis dan dia berbicara pada tubuh diam Ria..

Maafkan aku sayank……panda tahu bunda kecewa banget.  Panda menyesal bund……Panda janji tidak akan berbuat seperti itu lagi.  Panda janji, panda akan bantu bunda ngepel, nyapu lantai, nyuci baju, jemurin cucian, setrika, nyuapin Divo.  Panda janji gak akan buat bunda sedih.  Panda akan selalu perhatian sama bunda.  Panda janji akan membuat hari-hari bunda senang.  Panda akan bikin bunda tambah endut….tapi bunda janji ya, bunda juga harus kuat yah…bunda harus sembuh supaya panda bisa nepati janji panda sama bunda.  Biar kita bisa bersama lagi.  Bunda janji jangan tinggalin panda ya….panda nyesel banget, panda gak mau kehilangan bunda, panda sangat cinta bunda, selama-lamanya….

Rino tak sanggup berkata-kata lagi, dadanya sesak bergemuruh merasakan penyesalan yang sedalam-dalamnya.  Tangisnya parau….jemari tangannya menggenggam erat jemari tangan Ria…..Ria bisa mendengar semua perkataan Rino, tapi dia tidak bisa merespon apa-apanya….

Jangan menangis sayank…bunda tahu kok….bunda kuat…..bunda juga sayang panda…..

Air mata mengalir disela-sela mata Ria, dia sangat terharu mendengar ini semua.  Tapi sayang….dia tak mampu menggerakkan sekujur tubuhnya.  Dia ingin memeluk Rino tapi tidak bisa melakukan itu.  Tiba-tiba nafasnya memberat.  Dia merasakan jantungnya semakin melemah.  Sekali dia paksakan meremas jemari Rino merespon bahwa dia memaafkan semuanya, karena dia sangat mencintai suaminya Rino. Dan setelah itu tubuhnya melemas, dan makin lama makin mendingin.   Monitor denyut jantung berdenging lama dan grafik monitor melurus tidak menandakan lagi ada denyut-denyut kehidupan….Ria telah pergi selama-lamanya……..

Menyadari ada yang aneh, dan menyaksikan monitor denyut jantung melurus membuat Rino panik.  Dipencetnya tombol darurat memanggil perawat melihat kondisi Ria.  Datanglah para dokter dan perawat menangani Ria.  Takdir berkata lain, mereka sudah berusaha keras tapi Tuhan berkata lain.  Melihat bahasa tubuh sang dokter mengatakan sudah tidak ada harapan.  Rino harus menerima semuanya dengan ikhlas.  Rino terdiam terpaku, tidak percaya bahwa Ria telah tiada….hanya air matanya saja yang bisa mengalir.  Dia semakin sadar kalo Ria sudah pergi setelah melihat para perawat secara perlahan menutup tubuh Ria dengan selimut putih hingga kepalanya……..Selamat jalan sayang….aku sangat mencintaimu…..maafkan aku sayang……

 


Actions

Information

One response

13 06 2012
c4m0x5

Penyesalan selalu datang belakangan…cintai istri kita dengan membantu pekerjaan rumah agar bebannya semakin ringan….perempuan lemah tidak sekuat laki-laki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: