Frodo bilang: bu guru nakal, bu guru jelek. Kenapa Frodo tidak naik kelas satu SD?

15 06 2012

Kemaren sepulang sekolah, anak saya Frodo mukanya cemberut.  Padahal biasanya sambil mengucap Assalamu alaikum, dia segera berlari sambil senyum menghampiri saya yang sedang istirahat makan siang di depan Tv bersama istri yang selalu setia menunggu kepulangannya. Karena aneh tidak seperti biasanya, miminya langsung mendekati dia dan menanyakan mukanya yang sepanjang pintu masuk sampe ruang tv dilipat seperti sandal jepit itu.  Frodo bilang Bu guru nakal, Bu guru jelek, bu Guru tidak tahu kah?  Kami jadi heran karena setahu kami Bu Mut orangnya baik, lembut, dan penyayang anak-anak.  Kenapa Frodo menilai bu Mut seperti itu ya?  Selidik punya selidik, Frodo kecewa karena teman baiknya yang biasa bermaen sama dia di sekolah harus naik kelas 1 SD.  Sebut saja Galang dan Pasha.  Sedangkan dia masih tetap di TK tapi kelas gajah.  Kenapa cuma galang dan pasha yang naik kelas 1 SD? Kenapa Frodo tidak naik sama-sama? Bu Guru tidak tahu kah?  Kemudian mimi tanya balik, tadi Frodo bilang gitu sama bu guru gak? Dan Frodo hanya geleng kepala.  Kemudian dia masih protes berat dan menyuruh mimi kasih tahu bu guru.  Mengiyakan Frodo, mimi langsung sms bu guru dan memberitahunya bahwa frodo pulang sekolah protes dan Frodo bilang bu guru nakal, bu guru jelek, kenapa frodo tidak naik kelas satu sama kaya galang dan pasha.   Beberapa detik kemudian, bu guru membalas sms mimi.  Kata bu guru, dia minta maaf dan dia tahu apa yang dirasakan frodo.  Frodo tidak masuk kelas 1 karena umur Frodo kurang.  Galang dan Pasha umurnya sudah pas.  Mengetahui balasan bu guru tadi, Frodo masih tetap protes.  Katanya tingginya sama kok dengan tinggi galang.  Aturan khan sama-sama naik kelas 1 dong?

Kami dengan sabar berusaha menerangkan ke Frodo.  Dia masih belum mau mengerti kenapa begitu.  Kalo gak sekelas sama galang berarti dia harus cari temen lagi.  Dia harus kenalan lagi, khan semuanya baru.  Gak enak, soalnya Frodo dah deket dan cocok sama galang.  Dia sudah jadi sohibnya paling kentel.  Ya memang mereka sangat dekat dan akur, setiap harinya mereka saling bergantian meminjamkan mainan dan bertukar informasi tempat-tempat dimana galang atau frodo membeli mainan baru.  Up to date banget deh infonya semua. Hehehehe…..

Sahabat sangat berarti buat siapa saja, termasuk Frodo yang masih kecil yang menurut kami belum begitu memikirkan itu.  Eh ternyata, berpisah dengan sahabatnya membuat setengah hari ini hatinya sedih.  Waktu bangun dari tidur siangpun, mukanya masih suntuk dan bete.  Masih terlontar kalimat kenapa Frodo tidak kelas 1 mi? Istriku membelainya dan menenangkan hatinya.  Kasihan rasanya melihat Frodo seperti itu.

Sebenarnya kami sudah tahu dari lama bahwa Frodo tidak bisa naik ke SD karena memang umurnya belum cukup.  Padahal hanya kurang 2 bulan saja.  Resiko anak-anak yang lahir paska Juli.  Bisa saja kami paksakan masuk, tapi aturan dari kemendiknas membatasai minimal umur 6 tahun seorang anak bisa memasuki SD.  Berdasarkan yang pernah saya baca, ini merupakan hasil penelitian ilmiah yang menunjukkan batasan minimal usia masuk SD.  Terlalu cepat katanya memberikan pengaruh pada anak itu sendiri.  Mereka akan merasa jenuh pada tingkat tertentu.  Dampaknya akhirnya mereka malas sekolah, bosan belajar yang buntutnya prestasinya akan menjadi drop dan jatuh.  Dari situ makanya saya tidak ingin memaksakan anak-anak kami nanti masuk sekolah tidak sesuai batasan umur.

Tapi balik lagi ke Frodo, kadang jadi kasihan juga.  Beberapa temen pernah sama kasusnya, dia paksakan anaknya masuk.  Nah gak enaknya, pada saat Ebtanas di kelas 6 mereka tidak bisa mendapatkan nomor induk ujian.  Untuk dapat nomor itu, ada peraturan yang membatasi umur anak.  Akhirnya mereka merubah akte kelahiran anak-anak mereka.  Dituakan umurnya.  Wah….saya tidak setuju dengan itu.  Umur adalah karakteristik khusus yang menempel pada anak dan menjadi identitas aslinya.  Saya gak mau sampe harus menuakan umur anak.  Meskipun tidak ada efeknya, tapi menjadi tidak original lagi.

Menurut saya, peraturan yang harus dirubah.  Peraturan ini akan membatasi perkembangan anak.  Frodo sejak 2 tahun sudah hafal huruf A – Z.  Pas usia 4 tahun dia sudah bisa membaca kata,membaca  kalimat di buku meskipun pelan-pelan cara bacanya.  Kalo mo dibandingkan dengan beberapa anak tetangga yang sudah SD, membaca saja belum bisa padahal sudah kelas 2 SD.  Tapi dia bisa masuk SD.  Pertanyaan saya, lebih penting yang mana syarat untuk masuk SD : cukup umur atau  sudah mampu baca? Bingung deh, ckckckckckc……

Prediksi saya, ke depannya nanti setiap sensus atau registrasi penduduk kelahiran di bulan Agustus – Desember akan hilang.  Kalo peraturan masih mensyaratkan hal-hal seperti ini, para pasangan suami istri akan merencanakan kelahiran anak mereka antara Januari – Juli.  Maaf, dengan  mengesampingkan takdir Illahi, dengan asumsi setiap hubungan yang direncanakan akan berhasil 100 persen terjadi ovulasi, sudah bisa dipastikan pasangan suami istri akan berhubungan di bulan Mei – Oktober supaya anak-anak mereka bisa lahir tepat pada antara januari – Juli.  Asumsi semua hamil normal selama 9 bulan.  Jangan sampe ketika Allah menentukan lain, ternyata asumsi di atas tadi tidak terpenuhi, kemudian terjadi kehamilan di luar bulan itu, karena tidak ingin anaknya lahir di atas bulan Juli mereka gugurkan deh kehamilan itu supaya tidak sulit masuk sekolah…..ckckckck

Memperoleh anak merupakan karunia luar biasa yang sangat kita syukuri.  Sebelumnya kita tidak pernah memperhitungan jenis kelaminnya apa, lahirnya bulan apa, dsbg.  Tidak semua bisa menerima karunia ini seperti yang mereka inginkan.  Tidak semua pasangan baru menikah langsung dapat momongan.  Contohnya, istri saya mengandung Frodo setelah 8 bulan lamanya menunggu sejak pernikahan kami.  Kita tidak pernah memikirkan dia lahir bulan September.  Yang penting kami akan segera punya anak waktu itu.  Saya sendiri lahir di bulan yang sama dengan Frodo, tapi saya bisa masuk SD sebelum 6 tahun.  Dan nyatanya saya tidak mengalami masalah dengan pelajaran sekolah.  SD saya selalu dapat peringkat.  Akhirnya masuk SMP terfavorit dengan peringkat yang bagus juga.  SMA pun saya masuk SMA terfavorit di Purworejo dan berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan hingga akhirnya bisa masuk kuliah kedinasan di Jakarta Timur.  Selain gratis tiap bulan dapat tunjangan.  Alhamdulillah, Allah selalu memberikan kesempatan dan berkah pada saya hingga bisa menempuh pendidikan S2 di Universitas Indonesia dan berhasil lulus dengan IPK yang kata orang tinggi juga.  Dari sini saya bisa menyimpulkan, tidak ada pengaruh umur anak terhadap penerimaan sekolah.  Umur bukanlah syarat sehingga tidak membatasi anak-anak yang berprestasi untuk menikmati pendidikan.  Tidak sedikit kasus anak SD sampai kelas 2 bahkan 3 yang masih belum bisa membaca.  Ini karena peraturan yang hanya mensyaratkan umur bukan kemampuan dan kompetensi.  Kalo boleh usul peratuan diganti begini:

SYARAT UNTUK BISA MASUK SD ADALAH:  Sudah bisa membaca dan menulis bukan Sudah berumur 6 tahun atau lebih…..

Mari kita dukung anak-anak yang belum tepat usianya untuk bisa masuk jenjang pendidikan SD, Jaman dulu aja bisa kenapa sekarang tidak bisa.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: