The Final Destination

12 07 2012

Siapa yang tahu kapan ajal akan menjemput? Jawabanya adalah tidak.  Saya termasuk yang sangat kaget dan tidak percaya akan kepergian teman, saudara yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri.  Mas Edy Susilo meninggal dunia tanggal 5 Juli 2012.  Kabar kepergiannya saya terima via telepon pada saat saya tengah sibuk menyelesaikan pekerjaan yang harus boss bawa pada acara Lemhannas tanggal 9 Juli 2012.  Saya harus rampungkan tangung jawab yang saya terima itu.  Tidak ada waktu lagi untuk menyelesaikannya karena besoknya saya harus berangkat ke Bali.  Saya janji dengan boss akan menyelesaikan ini sebelum berangkat ke bali.  Tidak ada firasat bahwa mas Edy akan pergi meninggalkan kita semua.  Tidak ada dalam benak pikiran saya ini akan terjadi.  Dua kali saya dapat info keadaan kritisnya dan saya tidak mengkhawatirkan ini karena memang beberapa hari terakhir bersamanya, mas edy dalam keadaan baik-baik saja walaupun memang tidak begitu fit.  Pagi itu, yeddy memberitahu saya kalo mas edy sudah dipasang oksigen.  Saya sms istri keadaan mas edy dan ngajak istri njenguk sore nanti.

Empat hari sebelum meninggal, saya dan anak istri masih menjenguknya di rumah sakit.  Mas edy bugar dan tak tampak kalo dia sakit parah.  Memang tidurnya tidak tenang, sedikit-sedikit pindah posisi.  Kadang bangun untuk duduk, tapi saya selalu bilang pada mas edy untuk tiduran saja biar enak. Malam itu mas edy masih bercerita mengenang sembilan tahun yang lalu, pertama kali saya datang ke manokwari.  Waktu itu saya dijemput pake mobil tangki minyak untuk bisa sampai ke rumahnya.  Tugas pertama menjadi instruktur daerah pelatihan petugas P4B di distrik warmare yang menjadi bagian dari wilayah tugasnya sebagai seorang KSK.  Malam itu tidak ada kesedihan, masih riang dan masih bercerita dengan senang.  Tapi ada yang menyentuh saya waktu itu saat mas Edy berbaring tiduran dipangkuan ibunya.  Kepalanya dibelai penuh kasih sayang seperti anak kecil.

Tak disangka, malam itu adalah malam terakhir kami bisa bertatap muka dengan mas edy. Terakhir bisa ngobrol dengannya.  Kami sudah janjian akan datang lebaran nanti kerumahnya.  kebetulan saat pamit pulang malam itu sudah jam 10.30 WIT.  Kami tak sempat berpamitan karena mas edy lagi buang air.  Kami sempat menunggu, tapi  mbak Asih kasihan karena rumah kami jauh dan takut kami kemalaman, maka disuruhlah kami pulang.  Nanti akan di pamitkan ke mas Edy. Akhirnya kami pulang.

Siang itu, Buhari telpon dan bertanya apakah sudah tahu kondisi mas Edy?  Karena pagi sebelumnya yedi sudah bercerita, saya bilang ke buhari saya sudah tahu beritanya dan saya rencana akan datang ke sana nanti sore.  Ada pekerjaan yang musti diselesaikan.  Saat itu tidak sedikitpun ada rasa khawatir, karena saya tahu mas Edy baik-baik saja. Pada saat istirahat makan siang di rumah, perasaan khawatir tiba-tiba datang.  Teringat bahwa kamar yang ditempati mas edy adalah kamar di mana Atta anaknya deni meninggal.   Jadi terbayang kondisi serupa mas edy dan atta.  Keduanya dibantu oksigen.  Nafasnya tersengal-sengal dan putus-putus.  Astagfirullah, kami langsung berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.  Semoga segera datang kesembuhan itu.  Sempat terlintas untuk memberi tahu mbak asih, supaya mas edy dipindahkan saja ke kamar lain. Apalagi waktu jenguk kemaren, mbak asih pernah cerita kalo mas edy minta pindah kamar karena tidak nyaman dan ruangannya terlalu sempit.  Belum sempat rencana itu disampaikan, tiba-tiba jam tiga sebuah telepon mengabarkan bahwa mas edy telah meninggal dunia.  Innalilahi wainna ilaihi rojiun.  Padahal rencana jam 4 kami mau menjenguknya.  Sedih dan menyesal segera menghampiri perasaan saya.  Tidak disangka akan secepat ini.  Mendengar berita ini, segera saya telpon stri tentang kepergian mas edy.  Istri saya sangat terkejut.  Segera saya jemput istri dan anak, dengan motor plat merah saya tancapkan gas secepat mungkin segera meluncur ke rumahsakit.  Dalam perjalanan, saya sempat menangis ingat kebaikan mas Edy.  Saya merasa kehilangannya.

Setibanya di sana, terlihat banyak orang-orang kantor sudah berkumpul. Mereka sempat mendampingi detik-detik terakhirnya.  Saya sangat menyesal karena saya merasa orang yang dekat dengannya tapi tidak menemaninya di saat-saat terakhir. Terdengar tangisan dan teriakan iga yang belum siap ditinggal bapaknya.  Terlihat muka-muka kesedihan. Tampak mbak Asih yang sangat kehilangan.  Rautnya sangat berbeda dengan kesehariannya yang selalu ceria.  Malam itu mbak Asih masih ceria dan saya yakin mbak juga tidak menyangka akan ditinggal mas secepat ini.  Ya Allah…..berilah kekuatan pada mbak Asih dan anak-anaknya.

Hari itu juga mas edy akan dikebumikan.  Semakin cepat semakin baik.  Semua teman menghantarkan jenasah mas edy ke rumahnya yang terletak di daerah transmigrasi yang berjarak 60 km lebih dari rumah sakit.  Mereka ikut dalam rombongan mobil.  Saya menemani mas Edy dalam ambulance.  Saya duduk tepat menghadap kakinya.  Selama perjalanan, saya pegangi jenasahnya supaya tidak jatuh karena goyangan laju ambulance saat mendaki tanjakan.  Saya rasakan tubuhnya mulai kaku dan dingin.  Saya teringat sembilan tahun yang lalu masih dibonceng motor mas edy.  Teringat seminggu yang lalu baru saja menjenguknya di rumah. Teringat 2 minggu yang lalu bersama mas edy mengunjungi blok sensus SDKI yang bermasalah.  Teringat 2 bulan yang lalu di swissbel hotel diruang pelatihan petugas SDKI12 dimana saya menjadi instrukturnya.  Teringat saat mas edy ke kantor mengambil surat tugas. Teringat baru saja saya mengisikan pulsa buat HPnya.  Terbayang senyumnya menawarkan durian-durian hasil kebunnya.  Teringat saat tryout menemaninya di lapangan.  Teringat pinjam mobilnya untuk cari tabung gas.  Teringat ditelpon mas edy, dalam paraunya mengabarkan sementara tidak bisa turun lapangan SDKI karena lagi drop. Teringat bagaimana dalam sakitnya masih mengawal tim SDKI12 turun lapangan.  Ingat itu, air mata tak terasa membasahi wajah saya.

Akhirnya setelah satu jam berjalan sampai juga rombongan kami di kediaman beliau.  Ratusan orang sudah berkumpul di rumahnya.  Tampak wajah-wajah kesedihan yang tidak menyangka kepergian mas edy pada hari itu.  Saya masih menemani saat jenasahnya dimandikan.  Berhubung tidak ada hubungan darah, saya tidak turut memandikan.  Saya hanya menyaksikan wajah dan tubuhnya disirami air-air.  Masih terdengar tangisan iga dan mbak asih saat tubuh kaku mas edi dibersihkan.  Kesedihan itu belum hilang, masih segar diingatan saya saat seminggu yang lalu bercerita jika saya sudah pindah nanti ke jakarta dan saya dikasih kesempatan ke manokwari, saya akan nginap di hotel mas Edy (di rumahnya maksudnya).  Masih teringat janji datang  lebaran makan bakso buatan mbak Asih.  Insya Allah kami datang meskipun mas edy sudah tidak ada lagi.

Menjelang maghrib, kami mengantarkan mas edy ketempat peristirahatannya yang terakhir.  Saya menjadi semakin sadar bahwa hidup ini hanya sementara.  Ajal tidak ada yang tahu.  Kemaren kita masih ngobrol, tiba-tiba hari ini kita kehilangan orang-orang yang ada disekitar kita.  Manfaatkan hari ini menjadi hari terbaik kita bersama orang-orang yang kita kasihi dan cintai.  Jadikan hari kita menjadi hari yang berkualitas ketika kita bersama siapapun.  Karena kita tidak tahu, apakah esok kita masih bersamanya…..Selamat jalan mas Edy, semoga amal ibadah mas diterima Allah SWT….amien


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: