Satria Nusantara 1 (lanjutan)

29 08 2012

Inet dan blackie meluncur meninggalkan bandara Sutta.  Sementara itu Mocca belari-lari kecil menuju pintu masuk terminal keberangkatan 1A.  Sesaat sebelum tiba di pintu itu, Mocca menghentikan sejenak kakinya.  Terlihat dia sedang merogoh sesuatu di saku celananya.  Diambilnya selembar kertas yang tak lain adalah tiket pesawat menuju Jogya.

Tiga langkah di depannya, berbaris sekerumunan orang-orang yang sedang antri ingin masuk ke dalam terminal.  Tampak dua orang petugas check tiket sedang memeriksa satu persatu tiket yang dibawa orang-orang tersebut, hanya untuk memastikan mereka yang mau masuk membawa tiket yang sesuai dengan jadwal penerbangan.  Sementara itu, setelah Mocca yakin dengan tiket yang dibawanya, dia menyusup masuk ke dalam antrian tadi.

Tiba pada gilirannya, Mocca menyodorkan tiketnya pada petugas itu.  Dengan serius, petugas itu mengecek tanggal yang ada di tiketnya.  Sesaat sebelum disuruh masuk, petugas itu tersenyum pada Mocca.

“Mo syuting di Jogja ya mas Mocca?” sapa petugas

“Iya mbak.” balas Mocca dengan ramah

Mocca tersenyum pada kedua petugas itu dan kemudian bergegas menuju pintu masuk.  Sayup-sayup terdengar olehnya obrolan kedua petugas itu menyesal tidak bisa foto bareng dengannya.  Mereka terlihat menggerutu dengan antrian panjang calon penumpang yang harus dicheck tiketnya.  Ini membuat mereka tidak punya kesempatan foto-foto.  Coba tidak lagi musim liburan, pasti mereka bisa foto bareng.  Mocca hanya tersenyum mendengar obrolan itu.

  Mocca tidak begitu panik lagi.  Tadi dia tiba di bandara telat setengah jam dari waktu checkin.  Di counter checkin saja antrian masih panjang.  Sama panjangnya pada saat antri meletakkan tas di mesin scan barang di pintu masuk.  Bandara penuh sekali dengan penumpang.  Semua counter checkin dihiasi antrian calon-calon penumpang pesawat.  Beberapa menit antri, akhirnya Mocca checkin.  Dia dapat kursi nomor 13A.  Setelah itu dia segera menuju ruang tunggu yang ada di gate 2.  Sebelum menaiki eskalator menuju ruang tunggu, dibayarnya airport tax.

Sesampainya di ruang tunggu, Mocca mencari-cari tempat duduk yang kosong.  Semua penuh diduduki penumpang lain.  Mocca hanya menghela nafas dan kemudian dia putuskan menuju toilet.  Sepertinya dia ingin membasuh wajahnya supaya fresh setelah tadi cukup lama mengalami kemacetan di tol gatot subroto.  Mocca sudah tidak menghiraukan lagi pandangan banyak mata yang menatap sepanjang langkahnya menuju toilet.

*****

Terdengar suara perempuan mengumumkan kepada seluruh penumpang tujuan Jogyakarta memasuki pesawat.  Orang-orang segera berdiri dan menuju gate 2.  Antrian panjang juga berlaku saat petugas menyobek boardingpass.  Kebetulan Mocca tadi duduk didekat pintu keluar ruang tunggu menuju pesawat.  Dia berada di barisan paling depan.  Setelah petugas mengambil sobekan boardingpassnya, Mocca buru-buru mengayunkan kakinya menyusuri lorong-lorong menuju garbarata yang menghubungkan gate 2 dan pesawat.  Mocca jadi orang pertama yang memasuki pesawat.  Tidak begitu sulit baginya mencari kursi.  Dengan leluasa Mocca menempati kursi nomor 13A.  Setelah diletakkan tasnya di kabin pesawat, Mocca kemudian duduk dan memakai sabuk pengaman. Kemudian satu persatu penumpang mulai memenuhi pesawat.

Setiap mau terbang, Mocca tak pernah lupa memberi kabar pada mami dan kekasihnya. Mumpung pesawat belum terbang, sebelum handphone (hape) harus segera dimatikan, Mocca mulai menulis sms di hapenya. Pada saat dia mengirim sms pada Inet, tepat di sebelahnya duduk seorang laki-laki dewasa.  Umurnya sekitar 46 tahunan.  Dengan setelan jaz hitam, sepertinya orang ini bukan orang biasa.  Jam tangan bermerk dari swiss melingkari pergelangan tangan kirinya.  Tiga buah akik emas menempel pada jari-jari tangan kanannya.

“Mas Mocca ya?” tanya orang itu

“Iya betul pak.” Jawab Mocca

“Wah…kebetulan sekali.  Beruntung bisa bertemu langsung dengan mas. Kenalkan saya Cokro” ungkap pak Cokro sambil mengulurkan tangannya.

Mocca membalas uluran tangan pak Cokro dan menjabat tangannya.

“Kami sekeluarga sangat ngefans sama mas Mocca lho.  Kita selalu nonton acara mas.  Apalagi anak perempuan saya, dia suka banget sama mas. Kata mereka mas ganteng banget.  Ternyata mas lebih ganteng lagi aslinya. Hehehehe….”

Mocca hanya bisa menganggukkan kepala dan tersenyum.  Belum sempat bicara, pak Cokro sudah melanjutkan bicaranya lagi.

“Acara mas yang mengunjungi situs-situs bersejarah sangat bagus sekali.  Menurut  saya begitu, supaya orang Indonesia tetap cinta sama negaranya.  Biar tetep tahu sejarah jaman dulu.” urai pak Cokro

Perintah mematikan alat komunikasi dan elektronik keluar dari speaker yang terletak sepanjang dinding pesawat.  Pesawat segera take off meninggalkan landasan terbang menuju Jogjakarta yang akan ditempuh dalam waktu 45 menit dengan ketinggian 22.000 kaki di atas permukaan bumi.  Pesawat perlahan memasuki landasan pacu.  Sementara para pramugari sedang mempraktekan bagaimana menggunakan sabuk pengaman, tabung oksigen ketika terjadi guncangan, dan pelampung jika pesawat terpaksa mendarat di laut.  Usai itu, setelah gas mesin jet pesawat terdengar mendorong dengan kencangnya, pesawat meluncur dengan cepatnya sepanjang landasan pacu.  Dalam hitungan detik pesawat segera mengangkasa menyambut langit dan terbang melintasi Jakarta yang terlihat seperti mendung.  Orang yang baru terbang pasti menyangka mendung, padahal itu asap polusi timbal yang sudah lama memenuhi langit-langit Jakarta.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: