Satria Nusantara 1 (lanjutan 2)

31 08 2012

Setelah mendengar omongan pak Cokro, Mocca jadi teringat masa lalunya.  Dari kecil sampai sekarang dia paling suka dengan sejarah.  Dulu dia paling seneng sama cerita tentang kerajaan-kerajaan kuno.  Dari yang bener-bener nyata sejarahnya seperti kerjaan Singasari dan Majapahit, Sriwiaya sampai cerita fiksi seperti madangkara.  Mungkin ini pengaruh sama hobinya dulu menyimak sandiwara radio yang merebak luas seantero Indonesia yang booming banget akhir era tahun 80 an.  Sebut saja Saur Sepuh, Tutur Tinular, Badai Laut Selatan.  Mocca bahkan tidak pernah ketinggalan nonton di bioskop versi film dari sandiwara radio tadi.   Padahal waktu itu umurnya belum genap sepuluh tahun.  Dari kecil sudah maniak film-film berlatar belakang kerajaan kuno.  Habis nonton bioskop biasanya  Imajinasinya masih berlanjut.  Bersama temen-temen dan saudara, dia main perang-perangan layaknya jagoan di film dengan dilengkapi atribut-atribut dan kostum kerajaan.  Supaya detil biasanya dia pinjam kemben dan selendang nyokap atau mbah putri di rumah.  Mahkota biasanya menggunakan daun pohon nangka yang sudah kering yang dirangkai dengan lidi. Serasa pangeran-pangeran cilik jaman dulu.  Supaya mirip adegan di film, pada waktu bermain, dari mulutnya keluar suara-suara mendecis layaknya ilmu yang sedang dikeluarkan dan ditambah sedikit lompatan-lompatan membuat Mocca dan teman-temannya seolah sedang salto dan terbang di angkasa. Orang-orang yang melihatnya menjadi tersenyum geli melihat kelucuan dan kepolosan itu.

Kesukaannya ini belum berubah hingga sekarang.  Ini juga yang mengantarnya menjadi seorang presenter.  Menjadi host merupakan media baginya supaya bisa keliling Indonesia.  Sambil bekerja bisa mengunjungi situs-situs bersejarah dan candi-candi yang ada di nusantara ini.  Kebetulan banget,  ini membuatnya paham dengan semua sejarah yang ada di Indonesia.

“Mas di Jogja mo syuting apa ya?” sela pak Cokro

“Rencananya syuting candi Prambanan pak.” Jawab Mocca

“Brati mas ke Klaten ya?” tanya pak Cokro memastikan.

“Iya pak” balas Mocca

“Saya nanti ikut nonton syutingnya ah.  Kebetulan rumah saya dekat daerah situ.” Ungkap pak Cokro

“Silahkan pak.  Biasanya banyak yang nonton di lokasi.” Urai Mocca

“Nanti saya ajak anak-anak ke sana.  Mereka pasti senang sekali.  Mumpung ada mas Mocca hehehehe….” pak Cokro mengungkapkan keberuntungannya

Obrolan mereka sempat terhenti ketika pramugari mendekat menghantarkan makan dan minuman.  Mocca meminta jus apel kesukaannya sedangkan pak Cokro meminta kopi tanpa gula.  Keduanya langsung menikmati sajian maskapai yang mereka tumpangi.  Begitu pun dengan penumpang lainnya. Pesawat menjadi sepi ketika para penumpang secara serempak asyik menyantap sajiannya.  Maskapai terbaik di Indonesia ini memberikan servis yang paling digemari pengguna penerbangan.  Meskipun sedikit mahal, tapi tidak mengecewakan pelanggannya.  Mocca selalu terbang menggunakan  maskapai ini.

Tak terasa Mocca tertidur sejenak setelah makan.  Dia terbangun setelah mendengar suara pramugari mengumumkan bahwa mereka sebentar lagi memasuki Jogjakarta.  Pandangannya segera mengarah keluar, mencari tahu bagaimana suasana Jogja dari atas pesawat.  Matanya terpaku pada sebuah gunung yang menjulang di sebelah kiri pesawat.  Puncaknya tertutup segumpalan awan putih.  Hamparan hijau sepanjang gunung membentang luas.  Terlihat belahan bumi yang memanjang dari puncak gunung yang membelah dataran yang dipenuhi dengan rumah-rumah yang padat berdiri menghiasi bumi Jogjakarta.  Mocca merasa yakin bahwa yang dilihatnya adalah Merapi.  Salah satu gunung berapi yang masih aktif mengeluarkan lahar dan gumpalan awan panas yang biasa orang-orang sebut wedus gembel.  Ada perasaan aneh yang Mocca dapati ketika memandang angkasa Jogjakarta.  Seperti ada tabir yang melingkupi Jogjakarta.  Tabir mendung yang membuat adem Jogja.  Tampak jelas dipenglihatan Mocca batas tabir mendung dan terang yang diyakini membatasi Jogja dengan wilayah jawatengah  lainnya seperti magelang, purworejo, dan klaten.

Pesawat lambat laun menurun merapati bumi Jogja.  Setelah melintasi pemukiman padat, roda-roda pesawat keluar dan meluncur di landasan bandara Adi Sucipto Jogjakarta.  Dengan lembutnya pilot berhasil mendaratkan pesawat yang ditumpangi Mocca dan pak Cokro.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: