Satria Nusantara 1 (MEDALI PRAMBANAN)

6 09 2012

 

Hari ini Mocca musti jalan ke Klaten.  Ada syuting di kawasan candi prambanan.  Seperti biasanya, dengan Tshirt polo warna hitam plus jeans denim dia siap meluncur ke lokasi dan dikawal Ibong.  Mocca lebih cocok kalo pake baju warna ini.  Semuanya pilihan Inet.  Hampir 2 tahun lamanya jadian sama Inet. Inet selalu bilang kalo dia kelihatan lebih ganteng jika memakai baju hitam ato putih.  Mocca mengikuti saja saran pacarnya itu. Kebetulan juga dia demen warna hitam dan putih. Daleman yang dipakaipun warnanya tidak jauh-jauh dari unsur hitam ato putih.

Tiga puluh menit berlalu, ford hitam yang dinaiki Ibong telah melewati jalan Solo.  Beberapa saat sebelum tiba di gerbang kawasan candi Prambanan, bangunan candi yang menjulang tinggi langsung menyita pandangan Mocca.  Candi ini berdiri dengan anggunnya memamerkan keindahannya.  Sangat jelas terlihat satu candi utama  menjulang setinggi sekitar 50 meter. Beberapa gugus candi lain berdiri di sekitarnya.

Kompleks candi prambanan memiliki empat pintu masuk yaitu pintu timur, selatan, barat dan utara.  Karena kompleks candi ini menghadap timur, maka gerbang utamanya adalah pintu timur.  Tak sabar Mocca ingin segera menjelajahi keindahan candi hindu termegah di Asia ini.  Tak menunggu lama mobil berhenti parkir, Mocca segera keluar menyusuri kompleks yang sangat mempesona hatinya.  Mocca melangkahkan kakinya ke arah gerbang utama yang terletak di sebelah timur.  Matanya masih tertegun kagum atas keindahan mahakarya manusia pada abad 9 ini.

Mocca disambut oleh 3 candi pembuka yaitu candi wahana.  Pada jajaran terdepan ini, di bagian tengah ada candi Nandi yang melambangkan sapi sebagai wahana atau kendaraan Siwa.  Tanpa pikir panjang lagi, Mocca mencoba masuk dan mencari tahu detil candi Nandi. Di dalamnya terdapat arca lembu Nandi. Masih dalam ketakjubannya menyaksikan arca lembu yang ada di dalam candi, kakinya melangkah keluar.  Mocca mengitari candi ini.  Mocca melihat pada dinding bagian belakang arca Nandi ini di bagian kiri dan kanannya mengapit  dua buah arca yaitu arca Chandra yang melambangkan  dewa bulan dan arca Surya sebagai  dewa matahari. Chandra dilukiskan berdiri di atas kereta yang ditarik 10 kuda, sedangkan Surya berdiri di atas kereta yang ditarik 7 kuda.

Mocca kemudian mengalihkan perhatiannya pada candi yang terletak di sebelah kiri candi Nandi atau di bagian selatan.  Di situ terdapat candi Angsa yang menjadi wahana atau kendaraan Brahma.  Sayang ketika masuk ke dalamnya, tidak terdapat arca seperti di candi Nandi. Mungkin dulu pernah bersemayam arca Angsa sebagai kendaraan Brahma di dalamnya. Belum berhenti di sini, setelah cukup puas menyusuri candi Angsa, Mocca melangkah menuju ke sebelah utara. Di sana terdapat candi yang dipersembahkan untuk Garuda yaitu kendaraan Wishnu. Sama seperti candi Angsa, di dalam candi ini tidak ditemukan arca Garuda. Mungkin dulu arca Garuda juga pernah ada di dalam candi ini. Melihat candi Garuda Mocca jadi teringat lambang negara Indonesia yaitu Garuda Pancasila.  Mungkin proklamator kita terinspirasi dari burung yang dulu banyak hidup di Indonesia ini.

Puas menikmati keindahan 3 candi wahana, mocca tak tahan segera menuju 3 candi utama yang masing-masing tepat terletak di belakang candi wahana.  Mocca berjalan cepat mendekati candi utama yang berdiri megah di kompleks Prambanan.  Ketiga candi utama ini dikenal sebagai candi Trimurti yang menggambarkan 3 dewa utama umat Hindu yaitu Siwa, Brahmana, dan Wishnu.  Candi Trimurti (“tiga wujud”) ternyata dibangun untuk dipersembahkan kepada tiga dewa Hindu tertinggi tadi: Dewa Brahma Sang Pencipta, Wishnu Sang Pemelihara, dan Siwa Sang Pemusnah.

Mata Mocca langsung tertuju pada candi yang dari tadi sudah menyita perhatiaannya. Candi ini berdiri dengan gagahnya.  Menjadi yang tertinggi di antara 18 candi yang ada.  Orang menyebutnya Candi Siwa. Tepat berdiri di belakang candi Nandi yang menjadi kendaraannya.  Candi Siwa sebagai candi utama juga menjadi yang paling besar di kompleks candi Rara Jonggrang, berukuran tinggi 47 meter dan lebar 34 meter. Puncak mastaka atau kemuncak candi ini dimahkotai modifikasi bentuk wajra yang melambangkan intan atau halilintar. Bentuk wajra ini merupakan versi Hindu sandingan dari stupa yang ditemukan pada kemuncak candi Buddha.

Candi Siwa sangat indah.  Candi ini dikelilingi lorong galeri yang dihiasi relief yang menceritakan kisah Ramayana; kisah ini terukir di dinding sebelah dalam pada pagar langkan. Di atas pagar langkan ini dipagari jajaran kemuncak yang juga berbentuk wajra. Mocca mulai mengikuti kisah ini di mulai dari sisi timur.  Kemudian untuk mengetahui lanjutannya dia harus berputar mengelilingi candi sesuai arah jarum jam. Ternyata kisahnya belum berakhir di candi Siwa,  karena lanjutanya ada di relief Candi Brahma.

Candi Siwa sangat besar, di dalamnya memuat lima ruangan, satu ruangan di setiap arah mata angin dan satu ruangan utama dan terbesar yang terletak di tengah candi (garbagriha). Setelah berputar mengelilingi candi Siwa, Mocca kembali berada di pintu timur candi.  Kemudian dia melangkah naik memasuki ruangan timur yang terhubung dengan ruangan utama. Ketika memasuki ruangan itu, dia melihat sebuah arca Siwa Mahadewa (Perwujudan Siwa sebagai Dewa Tertinggi) setinggi tiga meter. Arca ini memiliki atribut atau simbol Siwa, yaitu tengkorak di atas bulan sabit (chandrakapala), mahkota (jatamakuta), dan mata ketiga di dahinya (trinetra). Arca ini memiliki empat lengan yang memegang atribut Siwa, seperti tasbih (aksamala), rambut ekor kuda pengusir lalat (camara), dan trisula. Arca ini mengenakan tali berbentuk ular naga/kobra (upawita). Siwa digambarkan mengenakan cawat dari kulit harimau, digambarkan dengan ukiran kepala, cakar, dan ekor harimau di pahanya. Arca Siwa Mahadewa ini berdiri di atas lapik bunga padma di atas landasan persegi berbentuk yoni yang pada sisi utaranya terukir ular Nāga (kobra).

Setelah itu Mocca menyusuri tiga ruang yang lebih kecil lainnya yang di dalamnya terdapat  arca-arca dengan ukuran lebih kecil yang terkait dengan Siwa. Di dalam ruang selatan terdapat Resi Agastya, Ganesha putra Siwa di ruang barat, dan di ruang utara terdapat arca sakti atau istri Siwa yaitu Durga Mahisasuramardini.  Durga sebagai pembasmi Mahisasura, raksasa Lembu yang menyerang swargaloka. Versi masyarakat setempat arca Durga ini juga disebut sebagai Rara Jonggrang. Arca ini dikaitkan dengan tokoh putri legendaris Rara Jonggrang yang meminta dibuatkan 1000 candi sebelum matahari terbit dan karena mengingkari janjinya dikutuk menjadi batu.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: