Satria Nusantara 1 (MEDALI PRAMBANAN Lanjutan 2)

19 09 2012

Sementara itu, di pelataran sebelah barat candi prambaman segerombol kru sedang sibuk menata peralatan syuting.  Sebuah kamera berdiri dengan tripodnya mengarah kompleks candi.  Syuting akan berlatar belakang kemegahan candi Prambanan.  Di sisi kiri dan kanan kamera berdiri kameraman yang siap mengambil gambar Mocca dari sudut kiri dan kanan.  Untuk menangkap suara Mocca saat syuting sudah siap seorang boomman dengan microfon yang digantung pada pipa panjang berwarna hitam.  Boommannya sendiri sedang duduk menunggu aba-aba dari sang sutradara.  Menunggu kesiapan kru produksi, sambil mengamati kru, sutradara yang gendut itu sedang duduk di belakang kamera utama di temani seorang asisten yang setia memegangi sebuah payung besar melindunginya dari sengatan panas matahari.

Diantara kesibukan itu, terlihat seorang laki-laki muda tengah sibuk menelpon.  Kegelisahan menunggu kehadiran seseorang.  Sepertinya dia sedang menunggu Mocca.  Tampangnya berubah menjadi lega ketika beberapa langkah di depannya muncul Mocca dan Ibong yang sedikit terengah-engah karena lari menuju ke lokasi syuting.

“Ups…sorry chal.  Belum mulai khan?” tanya Mocca pada Ichal

“Belum seh.  Tumben molor, biasanya ontime?” Balas Ichal

   “Sorry, tadi mampir lihat candi-candi. Bagus banget chal.” Terang Mocca yang telah melanggar kebiasaannya datang ontime at location.

“Oohh….pantes aja.  Okeh langsung ke Betti sana bedakan dulu and ganti kostumnya.” perintah Ichal

“Di mana?” tanya Mocca

“Tuh di sana” Ichal mengarahkan telunjuknya ke posisi beti berdiri.

Mata Mocca mengikuti telunjuk Ichal. Beberapa puluh meter dekat kamera duduk beberapa orang yang diteduhi oleh payung-payung besar yang melindungi mereka dari panas.  Ketika  matanya mengarah ke sekumpulan orang itu, didapati seseorang berambut panjang tengah melambaikan tangan padanya.  Mocca mengenali sekali sosok itu. Sudah tidak asing lagi bagi.  Mocca membalas lambaian tangan itu dan segera melangkah mendekatinya.

Baru saja menjejakkan kakinya didekat sekumpulan kru wardrobe dan makeup artist, Moca sudah dihadang Betti yang penuh tanya.  Mukanya sangat penasaran seperti seorang investigator.

“Iih…tumben lambreta mas? Akika sudah tunggu dari lampong neh.” ucap betti ketus

“Hehehe….sorry bet.  Tadi gw mampir lihat-lihat.” terang Mocca

“Iih…lihat-lihat cewek ya? Awas ya, akika bilang mbak Inet lho” tuduh Betty

“Hahahaha…enggak, emang barusan lihat yang cantik dan indah.. Tapi bukan cewek, candi tau.” Sanggah Mocca meledek

“Iih…boong deh. Ada aja alasannya.  Udin sini, akika poles dulu muka mas.” tandas betty

Mocca menuruti kata Betty.  Dia duduk di atas kursi yang sudah disiapkan Betty.  Dengan terampilnya, Betty segera menghias wajah Mocca supaya terlihat lebih tampan di kamera.  Sedikit lipgloss ditorehkan dibibirnya yang sudah merona merah.  Mocca tidak merokok, makanya bibirnya tidak hitam.  Kesempatan buat betty memegang bibir Mocca saat dia melapisi bibir itu dengan lipgloss.

“Udin mas. Iihh…ganteng banget seh? Mau deh akika polo.” Kata Betty dengan genitnya.

“Gak boleh bet, masa jeruk makan jeruk….hehehehe” ledek Mocca

“Iihh….gitu deh. Bukan muhrim juga kelee.” balas betty gak mau kalah.

“Neh mas kostumnya.” Betty menyodorkan sebuah kemeja yang dia ambil dari gantungan kostum.

“Ok, thenkyu.  Wadoh, ganti di mana neh?” tanya Mocca

“Iih…rempong banget seh mas.  Udah ganti di sini aja.” jawab Betty

“Awas lo bet, jangan ngintip yak.” larang Mocca

“Iih…enggak mungkin dech.” kata Betty sambil melengos.

Kemudian Mocca segera membuka Tshirt yang dipakainya.  Saat terlepas kaosnya, terlihat tubuh bidangnya yang putih.  Dadanya berotot dan perutnya rata sixpack.  Tubuhnya yang terbentuk karena dia rajin fitnes.  Terlihat betty mencuri-curi pandang mengamati tubuh atletis Mocca.

“Hayoo…katanya gak mau ngintip.” Ucap Mocca pada Betty

“Iih…enggak kok.  Tadi akika lihat mas Ibong kok.” Sanggah Betty yang kaget ketahuan ngintip Mocca.

Kebetulan Ibong jauh dibelakang Mocca sedang duduk ngobrol sama Ichal.  Keduanya sedang membicarakan jadwal syuting minggu depan.

Mocca hanya mengiyakan saja perkataan Betty.  Meskipun dia tahu Betty tadi mencuri-curi melihat tubuhnya, dia tidak perdulikan hal ini. Mereka sudah kerja bareng cukup lama.  Dan Mocca paling senang bercandain Betty.

Mocca segera mendekati sutradara dan mendengarkan arahan yang disampaikan.  Bagaimana dia memulai bicara, blocking kamera dan gaya waktu membawakan acara.  Semalam mocca sudah sempet reading script syuting untuk siang ini.  Beberapa saat kemudian, Mocca mengambil posisinya dan kru yang lain siap bekerja.

“Camera…rolling….action.”

*****


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: