Satria Nusantara 1 (MEDALI PRAMBANAN Lanjutan 4)

4 10 2012

Pak Cokro menutup hape lalu mengantonginya.  Cepat-cepat pak Cokro mengajak Nunuk dan Intan pulang ke rumah.  Ada yang tidak beres telah berlaku di rumahnya.  Dia sangat mengkhawatirkan istrinya tercinta.

“Baru saja romo terima telepon dari bune.  Kita di suruh pulang sekarang.” Ajak pak Cokro

“Ada apa Romo?” tanya Nunuk penasaran

“Romo juga tidak tahu.” Jawab pak Cokro

Menangkap gelagat yang tidak mengenakkan, membuat Mocca yang baru saja mendengar kabar tadi menjadi penasaran.

“Apa yang terjadi pak?” tanya Mocca

“Saya tidak tahu mas.  Saya pamit duluan ya.” pamit pak Cokro meninggalkan Mocca di lokasi syuting.

“Ini kartu nama saya pak.” Mocca menyodorkan sebuah kartu nama pada pak Cokro.

Setelah menerima kartu itu pak Cokro bersama kedua putrinya meninggalkan Mocca.  Dengan berat hati Nunuk mengikuti pak Cokro meninggalkan Mocca.  Hanya sebentar dia bisa merasakan kebersamaan itu.  Akhirnya, selama berjalan, sesekali dia menoleh kebelakang untuk melihat Mocca. Mumpung bisa, dia tidak ingin membuang kesempatan melihat wajahnya.  Sepertinya dia belum puas betul bersama Mocca.  Hatinya gundah antara khawatir dengan ibunya di rumah dan sedih karena harus berpisah dengan sang idola.  Satu hal yang membuat Nunuk sedikit lega, kartu nama Mocca yang ada di pak Cokro.  Mudah-mudah dia masih bisa berkomunikasi dengan Mocca.  Mudah-mudahan mocca tidak sulit dihubungi.

Nunuk bersama Intan duduk gundah di dalam mobil.  Terlihat pak Cokro ngebut membawa Fortuner hitam miliknya.  Pak Cokro ingin segera sampai di rumah.  Dia sangat mencemaskan keadaan istrinya.  Wajah ramahnya berubah menjadi kaku.  Rasa cemas pak Cokro terlihat sangat kuat sekali.

Beberapa menit berlalu dari Prambanan, akhirnya pak Cokro tiba di rumahnya.  Dua buah mobil patroli polisi terparkir di depan rumah.  Gerbang rumahnya terbuka lebar.  Beberapa orang berkerumun dipelataran, mencari tahu peristiwa apa yang telah menimpa keluarga pak Cokro.  Keluarga kaya yang sangat peduli dengan keadaan di sekitarnya.  Orang-orang di sekitar rumah pak Cokro sangat suka dengan jiwa sosial pak Cokro dan keluarganya.  Mereka terlihat ikut prihatin atas kejadian yang menimpa keluarga pak Cokro.

Pak Cokro segera keluar dari fortunernya dan melangkah cepat memasuki rumah diikuti kedua putrinya.  Pak Cokro merangsuk masuk membelah kerumunan yang sudah ramai memenuhi pelataran rumahnya sejak 15 menit yang lalu.

Ketika kakinya menapak di beranda rumah, dilihatnya ceceran darah tumpah dilantai keramik.  Perasaan pak Cokro menjadi semakin cemas.  Pikirannya sudah meluas kemana-mana. Tanpa pikir panjang, langsung diburunya keberadaan bu Cokro.

“Di mana istri saya pak.” Tanya pak Cokro pada seorang polisi yang berdiri di beranda

“Masuk aja pak, Ibu ada di dalam rumah.” Jawab Briptu Andre

Pak Cokro belum puas dengan jawaban sang polisi.  Segera saja dia masuk ke rumah untuk bisa menemui istrinya.  Ceceran darah masih terhambur di lantai dalam rumah.  Pandangan mata pak Cokro langsung tertuju pada sesosok wanita gemuk yang sedang duduk di sebuah kursi.  Seorang polwan dengan sigap menemani wanita itu.  Setelah melihat sosok itu, perlahan kecemasan yang singgah di hati pak Cokro mulai menghilang.  Pak Cokro berlari mendekati istrinya dan diikuti Nunuk dan INtan kemudian segera memeluk tubuh wanita itu.  Beberapa detik kemudian pak Cokro mengamati sekujur tubuh istrinya untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja.

“Bune tidak apa apa?” tanya pak Cokro memastikan

“alhamdulillah ndak papa pak?” balas istrinya yang mulai tenang mendapati suaminya sudah pulang.

“Itu darah siapa? Banyak sekali?” tanya pak Cokro

“Topan pak.  Dia lagi di rawat di rumah sakit.”

“Kenapa dengan Topan Bune?”

“Bune juga baru tiba. Bune juga ndak tahu pak.”

“Ada rampok?” tanya pak Cokro pada sang Polwan

“Sementara kami sedang menyelidiki pak. Tim sedang menanyakan beberapa saksi.”jawab sang polwan dengan sigap.

“Kata mbak Polwan, tangan topan luka kena sabetan parang pak.” Sambung bu Cokro

“Wah…kurang ajar sekali mereka.  Beraninya coba merampok rumah saya.” Pak Cokro geram menahan marah

“Bapak tenang saja.  Biar kami yang menyelidiki perampokan ini.” Tandas sang Polwan.

Mengetahui Istrinya dan Topan si satpam selamat, membuat pak Cokro menjadi sedikit tenang.  Pikiran pak Cokro tiba-tiba mengingat sesuatu barang yang ia simpan di kamar tidurnya.  Karena khawatir perampok mengambil barang itu, maka pak Cokro berpamitan pada istrinya. Dia ingin mengecek keberadaan barang-barang yang ada di rumahnya.

“Bapak ke kamar dulu bu.  Bapak mau chek barang-barang bapak.” Pamit pak Cokro yang kemudian ngeloyor menuju kamar, meninggalkan istri dan kedua putrinya.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: