Satria Nusantara 1 (MEDALI PRAMBANAN Lanjutan 4 End)

11 10 2012

Pak Cokro menjadi cemas.  Rasa takut langsung menghampiri pikirannya.  Sesuatu berharga yang telah dia simpan puluhan tahun di rumahnya harus aman dari tangan-tangan orang yang tidak tepat. Sudah bisa dipastikan para perampok ingin mengambil paksa barang itu.

Pak Cokro sudah berada di dalam kamar tidurnya.  Dipandangi seluruh isi ruangan yang porak-poranda karena perampok telah mengacak-acak barang-barang yang ada di dalam kamarnya itu.  Dari sini, pak Cokro semakin yakin bahwa mereka benar-benar mencarinya.  Jantung pak Cokro semakin berdebar.  Dia sangat takut kehilangan barang penting itu.

Pak Cokro mendekati sebuah vas bunga unik terbuat dari tembaga.  Benda itu tergeletak di atas lantai, tepat berada di sebelah meja yang terjungkir parah.  Pecahan bunga-bunga dari kristal dan porselin tersebar merata disekitarnya.  Vas bunga berukuran sedang dengan diameter 20 cm dan tinggi 45 cm itu masih utuh tak tergores sedikitpun.  Materinya yang terbuat dari tembaga membuatnya tetap kuat meskipun terjatuh di atas lantai marmer yang keras.  Diambilnya vas itu oleh pak Cokro.  Kemudian pak cokro menunggingkan vas itu.  Beberapa saat pak Cokro meraba-raba vas itu seperti mencari-cari sesuatu.  Tangan pak Cokro memegang bagian bawah vas dan kemudian pak Cokro memutar bagian bawah Vas itu melawan arah jarum jam.  Pak Cokro seperti membuka tutup toples.  Setelah terputar, bagian bawah vas terlepas dari bagian atasnya.  Pak Cokro segera mencabut sesuatu yang ada di dalam vas tadi.  Tampak sebuah bejana pipih dengan ketebalan sekitar 8 cm.  Diangkatnya bejana itu dengan sangat  hati-hati sekali.  Pak Cokro seperti membawa barang pusaka.  Kemudian pak Cokro mengambil sebuah benda yang ada di dalam bejana tadi. Tali rantai mengkilat terbuat dari emas teruntai perlahan ke atas mengikuti tarikan tangan pak Cokro.  Diujung rantai emas itu menggantung sebuah benda berbentuk bintang berujung delapan.  Bintang itu juga terbuat dari campuran emas dan tembaga dengan ketebalan sekitar 2 cm dan berdiameter sekitar 10 cm. Ditengah medali itu terukir susunan huruf jawa kuno.  Ternyata di dalam vas unik itu tersimpan sebuah medali emas.

Tak lama mengamati medali itu, pak Cokro segera mengembalikan ketempatnya.  Diletakannya medali dan bejana di atas tempat tidur.  Lalu pak Cokro bergegas menuju lemari pakaian.  Diambilnya sebuah kain sutra berwarna merah marun. Pak Cokro juga mengambil sebuah kotak kayu jati dari dalam laci lemari pakaian.  Beberapa detik selanjutnya, pak Cokro memasukkan medali emas itu ke dalam kotak kayu, namun sebelumnya medali dibungkus dengan kain sutra merah.

Merasa situasi sedang tidak aman, pak Cokro harus segera menyembunyikan kotak kayu yang dipegangnya.  Pak Cokro melangkah menuju hiasan wayang kulit besar yang ada di sisi kirinya.  Setibanya disana, di geserlah sedikit hiasan yang menempel di dinding. Dan di balik hiasan terdapat sebuah brankas tersembunyi yang bersandi digital.  Lantas pak Cokro memasukan beberapa angka dan setelah itu brankas tersebut terbuka secara otomatis.  Tanpa menunggu lama pak Cokro segera memasukkan kotak kayu ke dalamnya dan menutup kembali brankas.  Untuk menyamarkan keberadaan brankasnya, lalu pak Cokro menggeser kembali hiasan wayang besar ke posisi semula. Setelah itu pak Cokro berjalan menuju tempat di mana vas bunga antik tergeletak.  Dipungutnya bagian-bagian vas yang sudah tepisah itu, lalu menyatukan kembali bagian-bagian itu.

Sebelum keluar ruangan pak Cokro mengambil hapenya.  Dia akan menelepon seseorang.

“Assalamu alaikum” salam pak Cokro membuka pembicaraan dengan seseorang diujung telpon.

“Waalaikum salam.  Ada apa Kro.  Sepertinya penting banget nelpon saya.” Balasan suara halus perempuan diujung telpon.

“Maaf Kanjeng, saya mau melapor.  Rumah saya baru saja ke rampokan.  Sepertinya mereka mau mengambil Medali Prambanan.  Medali sudah diketahui keberadaannya.  Medali sudah tidak aman lagi.” Lapor pak Cokro pada Kanjeng Putri

“Saya turut prihatin ya Kro. Saya sudah dapat visi itu tadi.  Kamu harus segera memberikan Medali itu pada Orang yang tepat.  Sudah pas waktunya sekarang.” Perintah Kanjeng Putri

“Sekarang ya Kanjeng?” tanya pak Cokro memastikan.

“Iya, jangan ditunda lagi.  Gerakan mereka sudah meluas dan menyebar.  Kita harus mengamankan Medalinya.” Jawab Kanjeng

“Baik Kanjeng. Saya segera memberikan Medali pada denmas.” Ucap pak Cokro.

“Oiya Cokro, kemaren saya sudah minta bantuan Adi mengawal dan mengawasi kelompok Gudel.  Kamu urus Medali sampai aman!  Gudel sudah mulai mencium keberadaan Satria Nusantara.” Terang Kanjeng

“Berarti babak baru perjuangan akan mulai lagi Kanjeng.” Urai pak Cokro

“Betul sekali. Seperti ramalan Jayabaya.  Kita harus waspada dan siap bertarung kembali.  Demi keutuhan Nusantara.” Jawab Kanjeng

“Baik cokro, Kamu waspada ya.  Saya akan bantu awasi dari pesanggrahan.” Ucap Kanjeng menutup telpon

Pak Cokro menjadi semakin waspada.  Misinya mengamankan Medali Prambanan hingga sampai di tangan denmas.  Dia diberi kepercayaan mengawal Medali.  Dia tidak ingin melanggar janjinya pada Kanjeng Putri.  Gerakan gudel mulai mencemaskanya.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: