Satria Nusantara 1 (TITISAN GAJAHMADA Lanjutan 2)

28 12 2012

TITISAN GAJAHMADA Lanjutan 2

Suryanto menjadi heran melihat Lidut dan gerombolannya tiba-tiba meninggalkan dirinya.  Dilihatnya kijang hitam yang menghadangnya tadi, dengan cepat melaju menjauhi dirinya yang tengah kesakitan.  Rasa sakit masih menderu diperutnya.

Dirasanya sebuah tangan menyentuh lengannya.  Sur berdiri mengikuti angkatan tangan di kedua lengannya.  Seorang pria berusaha membopongnya masuk ke mobil fortuner yang tertahan dipinggir jalan.  Dengan sedikit menahan sakit, kakinya melangkah mengikuti arah pria yang membopongnya itu.

“Bagaimana mas? Baik-baik saja?”

Suryanto belum membalas pertanyaan pria yang menolongnya.  Segera diamati wajah pria itu.  Suryanto langsung tertegun.  Di dekatnya berdiri seorang pemuda tampan yang sangat dikenalnya. Dirinya tak asing lagi dengan wajah pemuda ini.  Dia biasa menontonnya secara tak sengaja di rumah pak Cokro.  Pak Cokro dan keluarga tak pernah ketinggalan melihat program tv yang dibawakan Mocca.

“Mas Mocca?” tanya Sur tak percaya

“Iya mas.” Balas Mocca sambil  tersenyum ramah pada Suryanto.

Tanpa pikir panjang, langsung dijabatnya tangan Mocca.  Sur sangat senang sekali bisa bertemu langsung dengan idolanya.

“Terimakasih ya sudah nolong saya.  Kalo tidak mungkin saya sudah habis mas. Suwun yo.”

“Tidak usah terimakasih mas.  Tadi kebetulan saja saya lewat. Saya gak tega lihat mas dari jauh dipukulin orang.  Sangar-sangar lagi.”

“Saya juga tidak ngerti, kenapa tiba-tiba mobil dipepet.  Terus saya ditanyain barang apa gitu. Terus dipukul karena tidak jawab. Lha saya bingung.”

“Mudah2an salah orang ya mas.” Ujar Mocca

“Mudah2an mas. Waduh mas, saya tidak nyangka bisa bertemu dengan mas. Kalo istri saya tahu, pasti dia jingkrak kegirangan mas. Mas kok bisa di sini?”

“Oh iya, mas minggu lalu khan bilang mo syuting di prambanan to?” timpal Sur dengan cepat sebelum mocca sempat membalas.

Mocca tersenyum dan menganggukkan kepalanya.  Baru akan menjawab, suryanto sudah memotong kesempatannya.

“Mas, acara yang mas bawain bagus banget.  Saya dan istri sangat suka nonton.  Kita selalu tungguin lho mas. Kita tidak mau ketinggalan satu episode pun.  Hehehehe…..”

“Makasih mas.  Saya senang dengarnya. Saya akan explorasi wilayah indonesia dari barat sampai ke timur.” Balas Mocca

“Iya mas, kita harus jaga budaya Indonesia.  Kita harus kenalkan pada anak-anak kita.  Jangan sampai nanti di ambil Malaysia lagi to mas? Hehehehe….”

“Doakan saja mas. Selama masih ditonton, produser akan memproduksi acara ini mas.”

“Amiin….” anggukan Sur mengamini perkataan Mocca

“Sepertinya mas sudah baikan. Kalo begitu saya mo lanjut perjalanan.  Masih sejam lagi saya naik mobil.” Pamit Mocca pada Suryanto.

“Mas mau kemana?”

“Saya mau ke rumah eyang.  Di Purworejo. Ngomong-ngomong, mas sudah bisa bawa mobilnya pulang?” tanya Mocca memastikan keadaan Suryanto.

“Iya mas, meski masih sakit tapi saya bisa bawa mobilnya mas.”

“Syukur kalo begitu.  Saya cabut dulu ya.”

Mocca beranjak meninggalkan Suryanto.  Dilangkahkan kakinya menuju mobil.

“Mas Moccaaa…..” teriak Sur memanggil Mocca

Mendengar namanya dipanggil, Mocca menolehkan kepalanya.

“Iya mas, ada apa?”

Suryanto tidak menjawab, tapi dia berlari mendekati Mocca.

“Bisa minta photonya mas. Buat kenang-kenangan.  Biar saya bisa kasih lihat ke istri dan anak-anak di rumah.” Minta Sur pada Mocca

Mocca menganggukkan kepalanya, menyetujui permintaan Suryanto.  Dengan hape, keduanya berfoto di dekat mobil yang akan digunakan Mocca ke rumah eyang.  Beberapa saat kemudian Mocca masuk ke mobil dan meninggalkan Suryanto yang tengah kegirangan bisa berfoto bareng artis terkenal dari jakarta.

Mocca meninggalkan salah satu fans beratnya.  Betapa bangga dirinya karena semakin bertambah orang yang suka menonton program acara yang dibawakannya setiap minggu pagi.

“Kita lewat mana Bro?” suara Ibong memecah suasana

“Jalan Wates Bong.”

“Beli oleh-oleh bakpia pathok gak?”

“Gak usah, Eyang gak suka nyemil.”

“Jangan makanan kalo gitu.”

“Gak usah. Eyang tiap minggu juga ke Jogja. Jalan-jalan Bong.”

“Oohh….eyang masih kuat?”

“Jangan salah.  Eyang masih kuat banget.  Padahal umurnya dah 75 tahun lho.”

“Kok bisa ya?”

“Eyang displin Bong. Eyang masih rajin joging.  Eyang enggak minum cola atau minuman soda dan berwarna lainnya seperti lo.”

“Oh ya?”

“Iya…yang selalu gw inget, eyang makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Makanya eyang jarang sakit.  Fresh and fit deh.”

“Wah…gw harus belajar banyak neh sama eyang.”

“Betul, tanya aja resepnya ntar kalo ketemu.”

“Hebat yak, bisa bertahan dari godaan makanan dan  minuman yang pasang iklan di TV ckckckck…”

“Semua jalaran kulino.”

“Apaan tu?”

“Semua karena kebiasaan Bong.”

“Betul juga yak.”

“Jadi penasaran gw mo liat eyang seperti apa?”

“Pasti heran dan gak percaya deh lo Bong.”

Pikiran Ibong mengelana luas, menerka-nerka wujud fisik eyang putri.  Ibong membayangkan sosok perempuan sepuh yang masih segar dan tak kentara ketuaannya.  Kulit masih kencang dan bersih.  Masih tegak ketika berjalan dan tak menggunakan tongkat kayu yang membantunya melangkah.  Kedisiplinan eyang putri dalam menjalani hidup membawanya selalu sehat dan tetap bugar di usianya yang sudah mencapai 75 tahun.  Eyang hidup di era makanan serba alami yang tak tersentuh bahan kimia apapun seperti pengawet, pewarna, dan perasa.  Tak seperti sekarang untuk tujuan produksi masal banyak makanan yang disusupi bahan kimia seperti tadi.  Kalau dibilang tingkat harapan hidup manusia semakin meningkat terkait dengan peningkatan derajat kesehatan, sepertinya menjadi tidak masuk akal jika manusia-manusia menkonsumsi makanan yang penuh dengan bahan kimia. Jika diakumulasikan selama hidupnya tentunya sangat berbahaya buat kesehatan.  Apalagi kecurangan beberapa pedagang makanan, hanya untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya, dengan mudahnya melanggar batas pemakaian minimum bahan kimia, bahkan menggunakan bahan kimia yang tidak layak untuk manusia dalam makanan yang mereka produksi.  Kedepannya banyak orang-orang yang terserang penyakit-penyakit degeneratif dengan macam-macam bentuk dan keparahan.

Tanpa Ibong sadari, ternyata Mocca sudah terlelap tidur.  Guratan kecapekan sangat kentara di wajahnya.  Sebagai manajer, Ibong tak ingin mengganggu tidur Mocca. Beberapa minggu belakangan ini jadwal Mocca sangat padat sekali.  Ibong harus memperhatikan keadaan fisik Mocca.  Kontrak sudah dibuat dan tidak pernah mau peduli apakah Mocca sehat atau tidak, syuting harus tetap berjalan.

Sebenarnya Ibong juga sangat lelah.  Matanya terasa semakin berat.  Diambilnya botol kratingdaeng dan kemudian dia tenggak habis minuman itu.  Kandungan cafeinnya meningkatkan detak jantungnya sehingga rasa kantuk yang melanda lambat laun mulai menghilang.  Setiap berkendara mobil, Ibong tak pernah luput membawa beberapa botol kratingdaeng sebagai teman di perjalanan.  Ibong menjadi segar dan fresh mengendari Ford hitam menuju rumah Eyang putri.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: