Satria Nusantara 1 (TITISAN GAJAHMADA Lanjutan 3)

8 01 2013

TITISAN GAJAHMADA (Lanjutan 3)

Di sebuah desa di salah satu kecamatan di Purworejo, berdiri rumah joglo tua yang masih sangat terawat bangunnannya.  Rumah Joglo terletak di depan 2 bangunan kecil joglo lainnya.  Taman luas mengitari rumah-rumah joglo tersebut.  Beberapa rumpun melati tumbuh merekah menghiasi sudut-sudut taman.  Komplek rumah jolgo dipagari beton setinggi satu meter.  Tepat ditengah pagar beton berdiri gapura sebagai gerbang masuk.  Gerbang dengan atap berbentuk joglo semakin menambah kental suasana jawa di  pemukiman itu.

Seorang perempuan sepuh tengah duduk di beranda rumah di temani satu teko teh hangat dan 2 buah poci kecil terbuat dari lempung.  Di sebelah teko terletak piring buah berisi pisang, jeruk, anggur.  Tubuh perempuan itu semampai dan dibalut kain jarik lurik dengan kemben.  Kebaya bidadari warna coklat merapat indah pada tubuhnya.  Rambutnya tak bersanggul tapi digelung dibelakang dikuatkan dengan tusuk konde terbuat dari kayu cendana warna putih.

“Tun, tolong ambilkan sendok kecil ya.” Perintah eyang putri pada atun, perempuan gendut yang setiap hari membantu di rumah.

“Inggih eyang.”

Beberapa saat kemudian, dengan cepat atun mendekati eyang putri dengan sebuah sendok kecil di tangan kanannya.

“Maaf eyang.  Ini sendoknya.”

“Makasih ya tun.”

“Mas Mocca jadi dateng ya eyang?”

“Jadi no.  Mungkin sebentar lagi tun. Tadi sebelum berangkat dia kasih tahu eyang.  Lagi diperjalanan sama manajernya.”

“Wong ndeso bisa geger eyang kalo tahu mas Mocca mau datang.  Hihihi…habis mas Mocca artis to? Sudah tinggi, guanteng lagi.”

“He eh tun.”

“Waktu mas Mocca dateng yang lalu, anak-anak perempuan pada datang semua ke sini to eyang.  Kasihan mas Mocca ngeladeni penggemarnya.  Repot banget to?”

“Yo gitu resikone jadi artis tun. Dikrubungi banyak penggemarnya.  Tapi sebagai artis khan ndak boleh sombong.  Penggemar mana mau ngerti.  Pokoke yo harus diladeni tun.

“Tapi saya lihatnya kasihan.”

“Ngomong-ngomong, kalo dari jogja khan perjalanan ke sini Cuma sejam setengah to tun? Sekarang jam berapa to?”

“sebentar saya cek dulu.”

Atun segera ngeluyur ke dalam rumah.  Beberapa detik kemudian atun sudah kembali mendekati eyang putri.

“Jam 11 eyang.”

“Lho…tadi pagi telpon jam 9. Sudah jam 11 kok belum sampe juga ya?”

“Ndak mungkin nyasar juga to eyang?”

“Iyo no. Lha wong sering ke sini masa nyasar tun?”

“Jangan-jangan terjadi sesuatu sama mas Moca eyang.”

“Ngawur kamu tun. Ndak boleh gitu.  Masa mendoakan cucuku kena musibah.”

“Maaf eyang, takut aja sa ya.”

“Yo mudah-mudahan lagi mampir kemana dia.”

“Iya eyang. Mudah-mudahan begitu yo?”

Eyang menganggukkan kepalanya berharap tidak terjadi sesuatu pada cucu laki-lakinya yang terakhir.  Eyang punya tiga orang anak dan semuanya adalah laki-laki.  Mocca adalah anak terakhir dari anak bungsu eyang putri.  Mocca juga tiga bersaudara yang semuanya juga laki-laki.  Entah kenapa, semua keturunan eyang putri menilai Mocca adalah cucu emas eyang putri.  Sepertinya perhatian yang diberikan eyang putri pada Mocca terasa lebih dibandingkan cucu-cucunya yang lain.  Kalo orang jawa bilang, Mocca adalah kuncen keturunan eyang putri.  Cucu terakhir dari anak terakhirnya.  Jadi Mocca itu adalah cucu termudanya eyang putri dan wajar saja jika dia sangat disayangi.

Khawatir dengan Mocca membuat eyang putri ingin segera tahu keadaan cucunya itu.  Diambilnya di atas meja sebuah hape canggih merek ternama seri terbaru yang baru saja keluar.  Ditekannya layar touchscreen hape dan memilih nomor hape Mocca.

Nada sambung terdengar di hape eyang putri, tapi tak diangkat oleh Mocca.  Eyang putri terus mencoba menghubungi dan sekali lagi belum juga terhubung dengan Mocca.  Tak menyerah, eyang masih mencoba lagi dan masih juga Mocca tidak mengangkat.

“Ndak diangkat juga tun. Ya gusti, ada apa dengan cucuku?”

“Masya Alloh.  Ada apa ya eyang? Saya jadi ikut-ikutan deg-degan.”

“Coba panggil Adi ke sini tun.” Eyang menyuruh mbak Tun memanggil Adi menghadap eyang putri.

Tak lama kemudian Mbak Tun menuju ke belakang. Ke joglo kecil sebelah belakang di mana Adi biasa duduk dan bekerja.  Adi adalah salah satu orang kepercayaan Eyang Putri yang mengatur segala keperluan eyang putri sehari-hari.  Adi jebolan pesantren ternama di jawa timur.  Dia cerdas secara akademik dan juga cerdas dari sisi spiritual dan keagamaan.  Sebenarnya ada hubungan kerabat antara Adi dan Eyang Putri.  Adi sejak kecil diasuh eyang putri.  Adi adalah cucu keponakan eyang putri yang sudah ditinggal mati kedua orang tuannya karena kecelakaan mobil.

Mbak Tun berlari-lari kecil menuju belakang.  Meskipun tubuhnya gendut, mbak Tun lincah dan tak merasa berat dengan beban tubuhnya.  Mbak Tun langsung masuk menuju ruangan di mana Adi biasa berada.  Didapati Adi sedang duduk di meja menghadap laptop tipis merek Aple.  Sepertinya dia tengah mengerjakan sesuatu yang amat serius.

“Maaf mas, mas Adi dipanggil eyang putri.”

“Oh iya mbak Tun. Makasih.  Saya segera ke depan.”

“Baik mas. Saya ke dapur duluan ya.”

“Iyo mbak.”

Sehabis menemui Adi, mbak Tun meluncur ke dapur menyiapkan hidangan makan siang khusus menyambut kehadiran mas Mocca.  Sementara itu Adi segera mendatangi eyang putri.  Sepertinya ada keadaan darurat yang menyebabkannya dipanggil.

“Maaf eyang putri panggil saya?”

“Iyo dii.  Eyang gi resah neh.”

“Ada gerangan apa eyang?”

“Begini. Tadi pagi adikmu Mocca telpon dari jogja mau mampir ke sini.  Telpon eyang jam 9 pagi. Tapi ini sudah jam sebelas lewat kok belum muncul.  Eyang telpon ndak diangkat-angkat.  Eyang ndak bisa terawang keberadaannya di mana sekarang?”

“Tenang aja eyang.  Dik Mocca masih di perjalanan.  Bentar lagi juga sampe.”

“Ndak gitu Dii.  Eyang masih ndak tenang.  Coba kamu susulin.”

“Baik eyang. Kalo bagitu saya coba susul dik Mocca.  Saya jemput dia di jalan jogja.”

“Iyo.  Kamu ati-ati yo Dii.”


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: