Satria Nusantara 1 (TITISAN GAJAHMADA Lanjutan 4)

10 01 2013

TITISAN GAJAHMADA Lanjutan 4

 

Sementara itu di daerah Purwodadi, beberapa kilo meter sebelum sampai pruworejo, di pinggiran sawah sebuah Ford hitam terjerungkup dipinggiran persawahan.  Kap depan mobil terbuka dan terdapat kepulan asap mengudara.  Pintu depan supir terbuka lebar.

Mocca yang berada di dalam mobil itu baru terbangun dari tidurnya.  Betapa kagetnya dia melihat mobil yang dikendarainya nyungsep dalam sawah.  Yang lebih mengagetkannya adalah Ibong tidak ada di dalam mobil bersamanya.  Pintu mobil depan sebelah kanan terbuka lebar. Perasaannya berubah menjadi tidak enak.  Mocca segera keluar dari mobil dan mencoba mencari keberadaan Ibong.  Pandangannya mengelilingi daerah di sekitar.  Tak dijumpai sosok Ibong di sekitar itu.  Yang anehnya lagi, di sepanjang jalan yang melintang di depannya tak ditemui satu pun mobil yang hilir mudik.  Suasana begitu senyap.

Mocca memandang sebuah bukit yang menjulang di sebelah timur.  Sawah-sawah hijau meluas di seantero pandangannya.  Rangkaian pohon kelapa berdiri di kaki-kaki bukit.  Diujung bukit sana, tampak seseorang berkuda mendekati tempatnya berdiri.  Kuda putih gagah ditunggangi pria bertelanjang dada.  Derunya semakin kencang mendekati Mocca.  Mocca berusaha tenang dan diam berdiri menunggu kedatangan kuda dan sang penunggangnya.  Mocca sudah bersiap-siap jika saja penunggang itu berniat buruk padanya.
Dalam hitungan menit, kuda itu sudah berhenti tepat dihadapan Mocca.  Sang penunggang segera turun menghampirinya.  Dia mengangguk ramah kepada Mocca sambil melepaskan senyum persahabatan.  Disodorkan tangannya.  Mocca tak segera menjabat tangan itu.  Dia masih merasa aneh.  Penunggang kuda itu berkostum jaman kerajaan tempo dulu.  Hanya dengan celana bludru  warna merah dibalut jarik lurik dan kemben melingkar di pinggangnya sebagai sabuk.  Sebuah keris terpasang di belakang.  Dadanya diselimpangi tali kulit. Sebuah medali kecil melingkar dipangkal lehernya.

Dalam pikirannya, Mocca menebak pria yang berdiri dihadapannya ini sedang memakai kostum syuting film dengan setting jaman kerajaan majapahit.  Film seperti ini pernah trend tahun 80 an saat dia kecil.  Dia jadi ingat film saur sepuh, sebuah film kolosal yang diangkat dari sandiwara radio yang booming saat itu.  Dia jadi ingat Brama Kumbara si satria madangkara.  Bisa jadi sedang ada syuting film di perbukitan di timur sana.

“Mari ikut saya nak.  Pasti kamu sedang mencari temanmu.” Suara penunggang kuda memecah kebekuan

“Tidak usah heran.  Percaya padaku, saya ingin menolongmu.” Lanjut penunggang kuda melihat Mocca masih ragu dengan ajakannya.

“Bapak siapa? Dimana Ibong?” tanya Mocca

“Saya Mada. Temanmu ada dibukit sana.”

“Benar Ibong ada di sana?”

Penunggang kuda tidak menjawab.  Dia hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Mocca.  Setelah itu dia meloncat ke atas kuda dan dengan tersenyum kemudian mengulurkan tangannya pada Mocca, mengajak Mocca naik ke atas kuda ikut bersamanya menuju bukit di mana Ibong berada.

Logikanya mulai bermain.  Kemungkinan tadi Ibong di bawa terlebih dahulu saat dia masih tertidur di dalam mobil.  Setelah menyelamatkan Ibong, pria ini gantian menjemputnya.  Semoga ibong baik-baik saja seperti dirinya.

Bersama penunggang kuda, Mocca melaju ke arah perbukitan.  Hamparan sawah meluas sepanjang jalan menuju bukit. Suasana masih tetap senyap tak bergeliat.  Mocca hanya diam mengikuti langkah kuda.

Setelah mendaki jalan ke perbukitan itu, tibalah mereka di tengah padang rumput  hijau yang membentang luas. Pandangan Mocca mencari-cari Ibong.  Tak ditemui tubuh manajernyaa di padang rumput.  Mocca masih mengira-ngira keberadaan Ibong.  Mocca meloncat turun dari atas kuda setelah sang penunggang menepuk kakinya sebagai tanda perintah agar Mocca segera turun.  Penunggang kuda itu menyusul turun beberapa saat setelah Mocca menginjakkan kakinya di atas rumput.

“Mari ikuti saya!” suara penunggang kuda mengajak Mocca

“kemana kita?” tanya Mocca penasaran

“Ke sana, ke pohon randu itu.” Penunggang kuda mengarahkan telunjuk pada sebuah pohon yang menjulang tinggi di bagian kiri padang rumput.

Sang penunggang kuda kemudian berjalan sambil menarik tali kekang yang menempel di kuda putih.  Keduanya berjalan beriringan menuju pohon randu yang berjarak sekitar 10 meter dari tempat pemberhentian tadi.

Pikiran Mocca masih melayang jauh menerka keberadaan Ibong.  Dugaannya salah jika ada syuting di daerah ini.  Seharusnya alat-alat produksi terpasang lengkap di padang rumput. Suasana padang rumput ternyata sama sepinya dengan tempat mobil ford terhenti.  Tak ada satupun kru produksi sedang bekerja.  Mocca kemudian mengindahkan pikirannya.  Dia mengikuti Mada dan kudanya berjalan.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: