Satria Nusantara 1 (TITISAN GAJAHMADA Lanjutan 5)

22 04 2013

TITISAN GAJAH MADA Lanjutan 5

 

Entah kenapa dengan dirinya, Mocca tidak mampu menahan ajakan Mada.  Setiap tangan Mada menyentuh pundaknya Mocca seperti terhipnotis. Meskipun merasa aneh dia tetap mengikuti langkah Mada.  Tepat di samping pohon randu, terdapat lobang yang menganga dengan diameter 3 meter.   Tak seperti lazimnya goa yang membelah gunung, lobang ini menjurus ke dalam bumi.  Dipinggir lobang tertata undakan anak tangga yang bisa digunakan sebagai jalan menyusuri lobang ke bawah.  Mocca masih membuntuti Mada yang sudah menyusuri anak tangga memasuki lobang goa. Satu demi satu anak tangga dipijaki.  Anak tangga habis setelah Mada dan Mocca berjalan hampir seratus meter hingga kedalaman 6 meter.  Setelah turun, di dapati lorong goa yang memanjang ke depan.  Suasana dingin menghampiri tengkuk Mocca.  Beberapa hembusan angin dingin menusuk kulitnya.

“Kita mau ke mana ini?” Mocca memberanikan diri bertanya

“Ke dalam.  Saya ingin menunjukkan sesuatu.”

“Ini goa apa?” tanya Mocca

“Seplawan.” Jawab singkat Mada

“Saya pernah ke tempat seperti ini.” Jelas Mocca

“Ya, tapi yang pasti bukan di sini.” Potong Mada

“Sangat mirip sekali. Ya ini mirip goa jepang di Ngarai Sianok yang ada di bukit tinggi.  Lebar lobangnya, jalan turunnya, dan suasana di dalamnya.” Urai Mocca mengingat goa jepang di ngarai sianok yang pernah dikunjunginya beberapa bulan lalu.

“Ini Seplawan, bukan goa jepang yang kamu bilang  tadi.” Terang Mada meyakinkan

“Tapi mirip sekali. Cuma ini ada di atas bukit.  Tidak ada ngarai atau jurang luas di bawah sana.” Ucap Mocca masih penasaran

“Ayo kita masuk ke dalam lagi.”

“Tunggu.  Sejauh ini saya belum ketemu Ibong. Di Mana dia?” Mocca menghentikan langkahnya, memastikan keberadaan Ibong.

“Tenang saja. Kamu pasti akan menemukannya.”

Kembali Mocca mengikuti Mada setelah pundaknya sekali lagi disentuh tangan kekar Mada.

Semakin ke dalam semakin gelap dan dingin.  Rasa dingin terus merasuki tubuh Mocca.  Dinginnya sudah seperti di Puncak kala malam hari.  Sesekali Mocca menggigil.  Sepertinya goa yang dia masuki angker karena begitu senyap dan adem.  Hanya nyala obor yang masih bisa sedikit membantu menghilangkan dingin yang menyengat.  Sepanjang lorong goa, obor menempel pada dinding – dinding goa.  Obor-obor itu terbuat dari perunggu berbentuk naga.  Nyala yang redup mampu memberi penerangan bagi keduanya berjalan menyusuri ke dalaman goa.

“Gelap sekali di depan?” tanya Mocca ketika berjalan tepat di samping barisan terakhir obor.

“Obornya hanya sampai di sini.” Jawab Mada

“Bagaimana kita masuk ke dalam?” tanya Mocca

“Tenang saja.” Jelas Madda

Pria itu kemudian berjalan mendekati dinding sebelah kanannya dan mengambil obor yang terpasang itu.

“Dengan ini kita bisa masuk ke dalam.” Terang Mada

“Saya pikir tidak bisa di ambil obornya.” Kata Mocca kecut

“Goa ini masih panjang. Di Ujung sana tersimpan harta peninggalan yang nilainya tak kerkira.” Cerita Mada

“Harta karun?” tanya Mocca

“Yah bisa dibilang begitu.”

“Siapa yang menyimpannya dulu?” tanya mocca

“harta ini sudah lama umurnya.  Sudah beberapa periode kepemimpinan presiden bahkan sejak penjajahan belanda harta ini di buru. Tapi sampai sekarang belum ada yang berhasil menemukannya.” Lanjut mada bercerita

“Apakah seplawan tersembunyi?”

“Dulu goa ini samar.  Tidak ada yang tahu keberadaannya.” Terang Mada

 

“Harta karun seperti apa yang ada di sini?”

“Banyak.  Semua emas. Ada yang batangan, ada yang ukiran.  Bisa untuk memakmurkan seluruh rakyat.  Harta ini milik nusantara.” Urai Mada

“Terus kenapa tidak bisa ditemukan orang?” tanya Mocca penasaran

“Hanya yang bersih yang bisa menemukannya.”

“Maksudnya?”

Belum sempat Mada menjawab pertanyaan Mocca, tiba –tiba angin berhembus kencang menghampiri mereka berdua.  Obor yang di bawa Mada padam seketika.  Tempat mereka berdiri menjadi gelap gulita.  Mocca tidak bisa melihat apapun di dalam goa. Beberapa saat kemudian Mocca merasa tanah yang dipijaknya bergoyang. Goyangan itu akhirnya membuatnya terhuyung jatuh.  Mocca panic dan bingung mau berbuat apa.

“Pak Mada….Anda di  mana?”

“Haloo……Pak Mada……” sekali lagi Mocca berteriak mencari Mada.  Sayang tak di dengarnya suara Mada membalas.

“Mocca…..” suara Ibong memanggil dari kejauhan

“Ibong….lo di mana?” tanya Mocca lega mendengar suara Ibong

“Mocca… kemana neh?  Gw gak tahu arahnya.” Tanya balik Ibong


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: