Satria Nusantara 1 (TITISAN GAJAH MADA Lanjutan 6)

24 04 2013

TTISAN GAJAH MADA Lanjutan 6

Goncangan itu semakin kuat dan menyadarkan Mocca.  Suasana lambat laun menjadi terang ketika Mocca membuka matanya.  Ternyata Ibong berada disampingnya dengan wajah penuh tanya masih duduk di jok tepat di depan setir mobil.  Mocca masih linglung dan belum sadar betul.

“Sorry, gw musti bangunin lo. Dari pada nyasar kejauhan.”  Terang Ibong minta maaf karena telah membangunan Mocca dari lelapnya sepanjang perjalanan tadi.

“Gw mimpi ya Bong?” tanya Mocca

“Mungkin. Tadi pules banget tidurnya.” Jawab Ibong.

“Aneh banget deh rasanya. Gw pikir lo kenapa-napa Bong.  Tadi gw cari lo sampe ke goa.” Cerita Mocca

“Cari gw? Sampe goa? Mimpi apa seh?” tanya Ibong penasaran

“Mobil kita tadi nyrusuk di sawah-sawah. Terus lo ilang.  Terus ada laki-laki pakai baju kuno nyamperin gw dan ngajak gw ke goa Seplawan.  Ada harta karun di situ. Terus ada gempa.  Jangan-jangan tadi gempanya karena lo bangunan gw sambil goyang-goyangin badan gw yak?”

  “Hehehe….sorry yak. Susah banget seh dibanguninnya. Berapa menit gw dah parkir di sini.  Untung alun-alunnya luas dan bisa buat parkir.”

“Ya udah. Dah deket kok. Bentar lagi sampe rumah eyang putri. Eyang pasti dah nungguin gw dari tadi neh.  Jam berapa seh.” Pangkas Mocca

Secepatnya Mocca merogoh hape yang ada di kantong celananya.  Dia ingin melihat jam di hapenya.  Kebetulan arloji lupa di pakai dan ada di dalam tas. Ketika melihat layar hape,  terlihat beberapa panggilan tak terjawab.

“Waduh…eyang manggil gw berapa kali bong.  Panik pasti karna gak gw angkat-angkat.” Kata Mocca

“Lo pules banget tidurnya.” Balas Ibong

“Iya bong. Eh ada yang telpon Bong. Jalan aja kalo gitu.” Perintah Mocca pada Ibong

“Assalamu alaikum mas.” Sapa Mocca

“Waalaikum salam. Dek Mocca di mana sekarang?” balas Adi diujung telpon.

“Posisi ada di alun-alun Kutoarjo mas. Kenapa?”

“Tidak. Tadi saya di suruh eyang jemput dek Mocca.  Saya ada di palang kereta stasiun dek.”

“Ok.  Mas putar balik aja. Tunggu Mocca  segera ke situ.”

“Ok. Saya tunggu.”

“Eh, enggak usah mas lanjut aja pulang. Mocca nyusul. Bilang eyang Mocca dah sampe.”

“Baik dek kalo begitu.  Mas duluan ya. Jumatan di Pringgo to?”

“Iya mas. Daah…”

Sementara Adi memutar arah balik ke rumah eyang putri, sekitar 1,5 kilo meter jaraknya Mocca menyusul di belakang dari arah alun-alun. Butuh waktu sekitar 5 menit bagi Mocca bisa sampai ke rumah eyang putri.  Keluar dari alun-alun, mobil yang ditumpanginya masuk ke jalan raya melewati pertokoan dengan bangunan kuno jaman belanda yang masih kokoh berdiri.  Beberapa becak tampak parkir di depannya. Suasana sudah agak berbeda dari waktu Mocca kecil liburan ke rumah eyang di ajak muter-muter kutoarjo.  Dulu penuh orang bersepeda.  Ada yang membawa beras, ayam, sayuran.  Saat itu, di sepanjang jalan terlihat deretan panjang anak-anak sekolah berseragam pramuka dari yang bercelana pendek hingga bercelana panjang beiringan pulang.  Sekarang jalan dipenuhi motor hilir mudik melintas di jalan raya.

Rumah eyang putri ada di sebelah selatan.  Setelah perempatan lampu merah, mobil belok ke arah kiri menuju ke selatan.  Mobil kembali memasuki toko pecinan.  Deretan Toko dengan arsitektur bangunan cina kuno peninggalan jaman belanda masih kental terasa.  Hanya di situ sekarang sudah berdiri mini market- mini market yang buka 24 jam.  Padahal dulu pertokoan sudah tutup jam 5 sore.  Saat melihat dokar yang disalipnya, Mocca jadi ingat waktu kecil dulu paling senang menggunakan delman atao dokar dari Kutoarjo menuju Pringgo.  Meskipun perginya di antar mobil, tapi Mocca lebih senang pulang dengan dokar.

Satu hal lagi yang membuat Mocca selalu kangen ke rumah eyang putri adalah melihat rel kereta api.  Mocca sangat suka naek kereta api.  Kebetulan di Kutoarjo berdiri stasiun besar yang melayani penumpang yang berasal dari kabupaten Purworejo dan beberapa daerah di sekitarnya seperti magelang, dan beberapa kecamatan di kebumen.  Untuk menuju rumah eyang putri, Mocca harus melintasi palang kereta api yang biasa disebut teteg.  Mocca harus melintasi dua jalur rel kereta api.  Kadang harus antri ketika kereta sedang melintas dari arah timur atau barat.

Melewati pemukiman cukup padat di sekitar selatan kutoarjo, sebelum sampe di desa Pringgowijayan tempat eyang putri tinggal, Mocca disambut dengan bentangan dan hamparan sawah-sawah yang luas.  Aroma padi yang segar dan gemericik bunyi butiran pepadian yang mulai menguning dan teruntai padat ke tanah begitu khas.  Suasana desa loh jinawi sangat tergambar sekali.  Jalan lurus ke selatan membelah persawahan di temani saluran irigasi di sebelah kanan menjadi sumber pengairannya.

Mobil berjalan perlahan menyusuri jalan pedesaan beraspal sisa peningalan belanda yang masih kuat menempel di tanah.  Beberapa orang penduduk terlihat tengah membersihkan kebunnya dari rumput-rumput dan ilalang. Pohon rambutan, mangga dan kelapa merata di kiri dan kanan jalan desa.  Setelah beberapa menit jalan, akhirnya tiba juga Mocca di rumah eyang putri.  Gapura Joglo selalu ramah menyambut kedatangannya.  Mobil parkir di sebelah kanan tepat di samping mobil yang tadi di naiki Adi.  Eyang putri dengan senyum ramah berdiri di teras rumah menyambut kedatangan sang cucu. Eyang putri masih terlihat cantik dan segar sekali.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: