Satria Nusantara 1 (TITISAN GAJAH MADA Lanjutan End)

25 04 2013

TITISAN GAJAH MADA Lanjutan End

 

Mocca segera berlari menghampiri eyang putri.  Dipeluknya tubuh eyang setelah dicium tangan kanannya dengan hormat.

“Assalamu alaikum….” salam Mocca pada eyang putri

“Waalaikum salam. Aduh cucu kesayanganku.  Sehat dan baik-baik saja to kamu le?” sapa mesra eyang putri

“Alhamdulillah Yangti.  Yangti sendiri sehat to? Tetep segar dan cantik neh?”

“Masa seh. Lha wong sudah tua begini dan kamu aja sekarang dah gedhe banget.  Tambah bagus saja kamu le.” Balas eyang putri.

“Oh iya, ini Ibong manajer Mocca Yangti.” Kata Mocca memperkenalkan Ibong pada eyang putri

“Siang eyang.” Sapa Ibong

“Siang le.  Ayo masuk sini.” Balas eyang putri dan mempersilahkan mereka berdua masuk ke rumah

“Kamu berdua pasti lapar banget.  Mbak Tun sudah masak dari tadi pagi.  Eyang dah suruh mabk Tun masak makanan ke sukaanmu le.” Kata eyang putri pada Mocca

“Wah, Yangti memang paling mantab deh. Hehehe…” balas Mocca senang

Eyang putri, Mocca dan Ibong berjalan ke belakang menuju ruang makan.  Di belakang mbak Tun sudah menyiapkan hidangan santap siang.

“Halo mbak Tun. Apa kabar?” sapa Mocca ketika menjumpai mbak Tun.

“Eh mas Mocca dah dateng.  Aduh…mas Mocca tambah ganteng aja seh.” Balas mbak Tun.

“Mas saya sudah masakin tempe bacem, kupat tahu sama bebek gorengnya lho.  Monggo di maem. Hehehehe…” cerita mbak Tun dengan senang

“Wuih…muanteb buanget mbak Tun.  Jadi bingung mau yang mana duluan. Hehehehe…” balas Mocca.

“Lho mas Adi mana mbak?” tanya Mocca

“Lagi mbelah kelapa muda ijo. Kalo ndak ada nanti mas cari-cari lagi.” Jawab mbak Tun

“Iyo le, kamu khan paling seneng minum es degan to? Yo wis tun, sana kamu panggil Adi sekalian makan bareng-bareng.” Kata eyang putri

“Inggih eyang…saya panggil mas Adi dulu ya.” Jawab mbak Tun dan kemudian segera menyusul Adi di belakang.

“Berhubung 45 menit lagi kalian musti jumatan, ayo langsung makan saja, biar Adi nyusul saja.” Ajak eyang putri pada Mocca dan ibong

“Ok Yangti. Mocca juga udah gak tahan lagii…” jawab Mocca

Ketiganya duduk di kursi makan yang melingkari meja bundar terbuat dari kayu jati asli.  Tak menunggu lama, Mocca mengambil kupat tahu kesukaannya.  Selang beberapa menit kemudian Adi muncul membawa degan yang sudah dicampur gula jawa.

“Ini dek degan kesukaanmu.  Dah dicampur gula jawa jadi maknyos lho.” Tawar Adi

“Wadoh, muantabs mas.  Ayok duduk sekalian kita makan sama-sama. Maaf kita duluan yak.” Terima Mocca girang

“Iya saya juga sudah lapar dek.” Kata Adi bergegas nimbrung duduk bersama.

“Adikmu ini ndak suka makanan Eropa.  Paling hobi sama masakan jawa yang manis-manis.  Lidahnya memang asli Indonesia.” Canda eyang putri

“Betul mas.  Kalo lagi jalan-jalan ke luar negeri kadang sedih.  Masakannya gak sesuai lidah.  Heheheh…” timpal Mocca

“Dasar Ndeso.” Canda Adi

“Hahahahaha….artist ndeso yak mas Adi?” timpal Ibong

“Biar Ndeso yang penting ganteng to?” balas Mocca

“Hahahahaha……” semua tertawa renyah, serenyah peyek buatan mbak Tun

“Gimana kemaren di Prambanan syutingnya lancar le?” tanya eyang putri

“Alhamdulillah lancar Yangti.” Jawab Mocca

“Kebetulan sekali bisa lihat candi prambanan lagi to?.  Kamu khan paling suka sama sejarah kerajaan, candi-candi dan semua yang berbau hal-hal kuno. Dari 9 cucu eyang, kamu yang paling suka di dongengkan babad-babad leluhur kuno.  Eyang jadi inget waktu dulu nonton filem saur sepuh yang diperanin fendi pradana, eli ermawatie dan murti sari dewi.  Pulangnya dia langsung pinjem jarik sama kendit minta di dandanin kaya raden bentar.  Terus minta di buatin kumis-kumisan.  Lha didandanin begitu, jadi ganteng beneran kaya raden bentar.  Pantes jadi ningrat.  Yo memang karena Mocca masih ada keturunan nigrat juga.” Cerita eyang putri

“Iyo, saya dipaksa jadi kijara musuhnya mantili.” Sambung Adi

“Pokoke lucu bener Mocca sama Adi maen perang-perangan kaya ada ilmunya juga…hihihi….”tawa eyang putri geli

“Wah gak usah dibongkar dong Yangti.” Pinta Mocca memelas

“Biar Ibong tahu to.” Balas eyang putri

“Pantes dia bawain program acara tvnya menjiwai banget yak eyang.” Ibong memberi tahu semua

“Yo yes no. Makanya waktu di casting jadi pemandunya, semangat dia. Bayangkan, dia hapal nama-nama kerajaan, candi-candi, situs-situs bersejarah. Jadi wajar saja tembus dia.” Urai eyang putri

Asyik bernostalgia tanpa terasa setengah jam sudah berlalu.  Adi, Mocca dan Ibong bersiap-siap menuju masjid untuk Jumatan.  Masjid terletak di sebelah timur berjarak sekitar 100 meter.  Ketiganya jumatan dan eyang putri menunggu di rumah.

*****

Malam harinya, menemani eyang putri di kamar tidur Mocca menceritakan beberapa kejadian aneh yang menimpanya.  Di atas tempat tidur yang terbuat dari jati jepara, Mocca duduk bercerita.  Syuting candi prambanan penuh dengan kejadian di luar akalnya sebagai manusia biasa. Bagaimana dia di hadang bayangan hitam yang hampir saja membuatnya celaka dalam perjalanan menuju cengkareng.  Belum lagi hembusan angin mistik yang menyentuhnya di candi prambanan, hingga pak Cokro menitipkan sebuah medali untuk disimpan olehnya.

“Ini yangti medali yang Mocca bilang tadi” Mocca menyodorkan medali yang dari tadi pagi tergantung dilehernya.

“Coba eyang lihat.” Ujar eyang putri mengambil medali itu dan kemudian mengamatinya.

“Apakah orang itu bernama Cokro le?” tanya eyang putri

“Lho eyang tau darimana?” tanya balik Mocca

“Cokro termasuk salah satu kepercayaan eyang.  Dia dipercaya menjaga medali sudah puluhan tahun.  Berhubung keberadaannya sudah tercium oleh gerombolan Gudel makanya demi keamanan, medali harus dipindahtangankan.”

“Jangan-jangan perampokan yang kemaren di rumah Pak Cokro ada kaitannya dengan medali ini yangti?”

“Iya le.  Gudhel menyuruh anak buahnya menyatroni paksa rumah Cokro. Untungnya mereka tidak berhasil menemukan medali ini.”

“Brati eyang yang suruh pak Cokro kasih medali ini ke Mocca?”

“Tidak le.  Secara kebetulan saja medali itu bisa sampai ditangan kamu.  Barang yang sudah menjadi milik, tidak akan lari ke mana.  Dia akan kembali kepada yang memilikinya.  Takdir sudah membawa medali kepada siapa yang berhak menyimpannya.” Terang eyang putri

“Maksud yangti? Mocca enggak ngerti.”

“Medali ini adalah medali prambanan.  Medali ini milik Patih Gajahmada.  Hanya titisannya saja yang berjodoh dengan medali prambanan.  Sudah lama medali ini disembunyikan dari tangan-tangan kotor yang ingin merampas kekayaan nusantara.  Sengaja di samarkan keberadaannya hingga lambat-laun medali terbongkar keberadaannya.  Gerombolan gudel sudah mulai mencium aromanya.  Mereka sudah mencari lama.  Berbagai cara sudah mereka lakukan untuk dapat mengambilnya paksa.  Mocca, di darahmu mengalir darah Gajahmada.  Kamu adalah titisannya.  Kamu adalah keturunan ketujuh yang akan membantu satria piningit menyatukan kembali nusantara yang sudah mulai bergoyang retak. “


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: