Satria Nusantara 1 (RAHASIA YANG TERKUAK Lanjutan)

29 04 2013

RAHASIA YANG TERKUAK Lanjutan

 

Setelah itu Gajah Mada diangkat menjadi patih di kerajaan bawahan Majapahit yaitu Daha, dilanjut menjadi patih di Jenggala  dan akhirnya diangkat menjadi Maha Patih di kerajaan Majapahit. Gajah Mada berhasil memberantas pemberontakan dibeberapa daerah kerajaan bawahan kerajaan Majapahit juga, yaitu kerajaan Sadeng dan Keta, dilanjut dengan invasi terhadap kerajaan Bali. Ketika diangkat atau dinobatkan menjadi maha patih di kerajaan Majapahit, di situlah Gajah Mada mengucapkan sumpah yang terkenal dengan sebutan “Sumpah Palapa”.

“Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa,

sira Gajah Mada : Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa “

“Gajah Mada sang Maha Patih tak akan menikmati palapa, berkata Gajah Mada “Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa. Sebelum aku menaklukkan Pulau Gurun, Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pulau Pahang, Dompo, Pulau Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, aku takkan mencicipi palapa.”

Tidak semua orang saat itu percaya pada Gajah Mada. Ada sejumlah (atau bahkan banyak) orang yang meragukan sumpahnya.  Namun begitu, Patih Gajah Mada memang hampir berhasil menaklukkan Nusantara. Bedahulu (Bali) dan Lombok (1343), Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Tamiang, Samudra Pasai, dan negeri-negeri lain di Swarnadwipa (Sumatra) telah ditaklukkan. Lalu Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.

Di zaman Prabu Hayam Wuruk (1350-1389), Patih Gajah Mada mengembangkan penaklukan ke wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.

Titik puncak kejayaannya ada pada jaman raja Hayam Wuruk. Namun, akibat Perang Bubat, karir politiknya mulai merosot (1357). Bermula pada saat Prabu Hayam Wuruk hendak menikahi Dyah Pitaloka putri Sunda sebagai permaisuri. Lamaran Prabu Hayam Wuruk diterima pihak Kerajaan Sunda dan rombongan besar Kerajaan Sunda datang ke Majapahit untuk melangsungkan pernikahan agung itu. Namun Patih Gajah Mada yang menginginkan Sunda takluk memaksa menginginkan Dyah Pitaloka sebagai persembahan pengakuan kekuasaan Majapahit. Akibat penolakan pihak kerajaan Sunda mengenai hal ini, terjadilah pertempuran yang tidak seimbang antara pasukan Majapahit dan rombongan Sunda di Bubat yang saat itu menjadi tempat penginapan rombongan Sunda. Dyah Pitaloka sendiri bunuh diri setelah ayahanda beserta seluruh rombongannya gugur dalam pertempuran.  Akibat peristiwa itu, Patih Gajah Mada dinonaktifkan dari jabatannya dan ia diberi pesanggrahan “Madakaripura” di Tongas, Probolinggo. Namun pada 1359, Gajah Mada diangkat kembali sebagai patih, hanya saja ia memerintah dari Madakaripura. Kemudian pada 1364, cerita Gajah Mada menghilang secara misterius dan tidak pernah muncul lagi, sangat tidak benar.

Sang Patih hijrah ke barat ke daerah Mataram yang sekarang menjadi Jogjakarta. Bersama keluarganya melebur ke dalam masyarakat menjadi orang biasa.  Hijrahnya sang Patih mempunyai tujuan mulia mengamankan kekayaan nusantara.  Kejujurannya membuat sang Patih tak pernah tergiur mengambil harta kekayaan itu.  Bekal harta yang dimiliki sebagai seorang patih ternama cukup baginya bisa membeli lahan dan tanah untuk digunakan sebagai orang biasa di daerah baru.”

“Jadi sebenarnya kita ini orang malang yang ti?”

“Moyangmu berasal dari malang.  Tapi kamu sekarang Indonesia.  Coba lihat mamamu.  Dibilang orang jawa bukan juga.  Buyutmu orang makasar.  Jadi darah nusantara sudah mengalir di tubuhmu le.  Sekarang tidak boleh melihat suku. Semua sama-sama orang Indonesia. Cuma kita harus tetap melestarikan adat dan budaya suku kita, hanya sebatas itu.  Untuk hubungan ke masyarakat, semua sama tidak ada orang asli, tidak ada pendatang.  Runyam urusannya jika semua orang berpikir seperti itu.  Makanya sekarang kita mulai pecah.  Padahal susah payah leluhur kita  menyatukan Nusantara.”


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: